Kamis Manis

Selama saya naik angkot 07 ke terminal Depok, baru kali ini ngalamin macet yang sampe satu jam. Tampak wajah-wajah bete, cemas, peluh keringat mulai menampakkan diri diatas dempul make up para penumpang wanita pagi itu. Supir muda yang menyapa tiap supir 07 lainnya dari lawan arah sembari tertawa menutupi ke-bete-an nya dikemacetan sepanjang jalan, dan menyarankan untuk memutar-balik supir dibelakangnya, “Parrah!, Udaah kaga kuat dah lu, macetnya kayak begini, puter balik aja, oper sini sewa nya”, dan supir itu-pun akhirnya nyerah juga.

Ada yang membuat saya Ge-eR, seorang mba-mba masuk dan duduk di sebrang saya, sejak dia masuk dan duduk, sering sekali tertangkap basah menatap saya lekat-lekat, mungkin saya mirip artis atau mirip kenalannya yang berkesan kali yah, atau memang saya yang cantik? muahahaha, narsis banget sih, hahaha. Cukup jangan dilanjutkan sesi narsisnya (^_^)v

Saya mulai menyetel playlist di hp, dan mengeluarkan buku dari dalam tas untuk mengatasi kejenuhan di tengah kemacetan itu. Sesampai di terminal dan di stasiun pun saya langsung saja bergegas (tidak ada yang menarik untuk diceritakan).

Keluar dari stasiun Karet, saya tidak sengaja melihat seorang laki-laki muda, fresh, rapi, memakai jaket hitam Eiger senada dengan tasnya dan celana coklat muda senada dengan sepatunya, juga menggunakan jam tangan di tangan kirinya. Dia akan menyebrang ke arah pejompongan dan saya melanjutkan langkah saya ke arah london school. Ketika menyebrang tiba-tiba dia di belakang saya dan mengambil posisi di kanan saya (seperti menyebrangkan), loh saya pikir dia akan menyebrang ke pejompongan. Saat menyebrang lagi, saya lebih lambat sedikit dan mengambil posisi di kanan dia (arus kendaraan dari arah kirinya).

Setelah menyebrang, dia menyamakan ritme langkahnya agar kami dapat jalan sejajar. Dia pun mulai membuka pembicaraan;
“Mba dari sini ga ada angkot yang kesana (tangannya menunjukkan arah yang ingin dia tuju) ya?”,
“Ada kok mas, biasanya ada mikrolet atau bemo dari puteran balik di kolong situ tadi (saya pun mengarahkan dengan tangan sambil menoleh ke belakang)”,
“Ooo, begitu.. saya mau ke Menara Batavia”,
“Emm,, ada kok lewat biasanya, mungkin ini lagi belum lewat aja, atau nanti bisa naik dari turunan fly over itu (saya menunjuk ke depan), naik mikrolet dari situ”,
“Oo, iya.. Mba mau kemana?”
Dengan rasa canggung, bingung mau jawab apa, karena kantor pun depan jalan, saya pun menjawab, “Emm.. mau ke depan fly over situ mas”,
“O,, gedung apa?”,
“Telkom mas”,
“Kerja disitu?”,
“Iya”,
Seketika hening, sebenarnya bisa saja saya tanya balik, tapi niat itu saya urungkan, tiba-tiba saya teringat komen jani di #cerita #pagi kemarin, haha, apa iya..? #ngaco
“Mba yang tadi naik kereta?”,
“Iya”, waah dia kok tau saya naik kereta? batinku,
“Saya baru kali ini naik kereta”,
“Ooo..”, saya juga baru mas, dalam hati 😛 ,
“Mba naik dari stasiun mana?”,
“Saya dari Depok Baru mas”, 🙂
“Oo.., eh saya mau naik mikrolet, udah ada tuh”, sambil menoleh dan bersiap.
“Oh iya silahkan :)”, karena posisi dia di kiri saya, selama mengobrol tentu saja mudah baginya untuk melihat yang tak dapat saya lihat di belakang saya.
Bahasa tubuhnya mengatakan, “Mari mba” berpamitan dan melemparkan senyum pada saya. Sayapun membalas senyumannya. 🙂
Melanjutkan langkah kaki yang sebentar lagi tiba di pintu gerbang gedung Telkom Karet Tengsin, ku lambatkan lagkahku, aku ingin memastikan bahwa dia telah naik bukan sengaja untuk menghentikan pembicaraan. Setelah ku lihat dia di belakang bemo itu dengan kepulan asap bercampur debu, ku langkahkan kaki dengan cepat dan membawa ke-riang-an masuk ke gedung tua itu, menyapa pak satpam dengan ceria, “Pagi pak :)”. “Pagi, hati-hati jatoh”, balasnya, karena ku sedikit berlari memasuki lobby.

Yaa Rabbi, apakah ini ijabah dari komen jani kemarin di #cerita #pagi ku?. Seorang lelaki berkulit putih bersih, berjenggot dengan sedikit kumis, berpakaian rapi dengan jaket hitam eiger dan celana coklat muda, yang tak ku ketahui siapa namanya.

Aku percaya tidak ada skenario yang lebih indah selain skenario hidup dari -Mu Yaa Rabb. Sungguh Aku tidak mengetahui, Engkaulah Yang Maha Mengetahui. Aku tidak mau mendahului takdir-Mu..

Datangkanlah “dia” (calon imamku) dengan cara yang Engkau suka Rabb, dengan proses yang kau suka dan ridhoi, sungguh pilihan-Mu melebihi apa yang aku butuhkan.. aamiin 🙂

#Cerita #Pagi #Kamis #Manis ❤

26 September 2013

Jakarta, Karet Tengsin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s