Resume Materi to be WOW

Resume materi to be WOW
#pertemuan 1, ahad 25 mei 2014
#pemateri euis

______________________________
Slide 1
Dlm perbincangan seputar pernikahan, seringkali kita mendengar istilah “mensegerakan atau tergesa-gesa?”
Sebenarnya apa yg membedakan 2 kalimat ini? Apakah soal brp lama qt ada dlm masa penantian? Ataukah ttg sbrapa cpt dan pd usia brp kita bertemu sang pangeran dan bersanding di pelaminan?
Ternyata tak sepenuhnya demikian.
Mensegerakan dan tergesa-gesa lbh pas jika dimaknai dlm konteksnya sbrapa lama persiapan yg qt lakukan untuk menuju gerbang pernikahan. Ia berbicara masalah waktu dan sbrp matang persiapan.
Ust Salim A.Fillah misalnya, bliau menikah di usia 20thn. Tp sejak usia 15 thn bliau tlah mempersiapkan diri. 5thn persiapan. Ini namanya mensegerakan.
Berbeda dg seseorang yg menikah di usia 30thn misalnya, tp baru melakukan persiapan dg penuh kesadaran 6 bln sblm menikah. Ini masuk kategori tergesa2.

Slide 2
Bbrp thn lalu, saat sy msh bujang. Sy sedang dlm perjalanan ke rumah nenek di kota Batu. Saat itu hampir tengah malam, kami berhenti sejenak dan sy turun dr mobil untuk pesan nasi goreng di sebrang alun2 kota apel ini. Ternyata disana sdh ada bbrp anak punk yg ngumpul dan ngobrol heboh. Secara fisik penampilan mrk tdk jauh beda dg anak2 punk kebanyakan. Rambut di cat warna warni, pakai tindik di bbrp titik, pakaian dominan hitam  dan bertampang “sangar”. Bkn berniat mencuri dengar pembicaraan mrk, tp krn volumenya tdk kecil mau ndak mau sy jg bs ikutan dengar. Ada yg menarik, saat salah satu dr mrk bercerita dg sangat antusias ttg pacar barunya. Ttg keindahan fisiknya, ttg kemolekan tubuhnya, ttg kelincahan sikapnya. Wow banget deh menurutnya. Tp tiba2 ada salah seorang diantara mrk yg tanya : emang kamu mau jadikan istri? Spontan dijawab oleh sang pacar: ya nggak lah.. Yg bener ajaaa. Aq kalo cari istri ya yg sholehah, minim jilbaban, biar bs ndidik anak2q ntar!”
Mak jlebbbbb..
Sy terkejut dg jawaban spontannya.
Anak2 punk yg dlm bayangan sy agak “ngeri dan sesuatu” ternyata mrk jg mendambakan sosok istri yg baik sbg pendamping hidupnya dan ibu dr anak2nya kelak.. Masyaallah…
Apalagi kita, insyaallah.. Pasti jg mendambakan sosok suami yg baik, yg shalih dan bs menjadi imam bagi qt dan anak2 qt kelak. 
Tapi pertanyaannya adalah : apakah kita sudah mempersiapkannya??? Lalu apa saja yg perlu dipersiapkan?

Slide 3
5 persiapan menuju pernikahan.
Paparan berikutnya hanya bersifat preview. Materi lbh detail akan disampaikan di pertemuan2 berikutnya oleh pemateri yg sesuai bidangnya

Slide 4
1. Persiapan ruhiyah/mental
A. ujian & tanggungjawab
Persiapan mental kita menuju pernikahan adalah dengan membangun wacana yg benar, meletakkan paradigma yg proposional ttg sbuah organisasi bernama pernikahan. Bahwa ia tdk hanya berisikan sebuah keindahan dan sgala hal yg menyenangkan semata. Akan ada ujian dan tanggung jawab besar disana.

Qt dapati sosok mulia ibunda khadijah, misalnya. Lembut, keibuan, dermawan, kaya, support perjuangan dsb. Semua laki2 pasti tidak menolak jk dpt sosok istri spt itu. Tp tdk semua laki2 siap beristri dg wanita yg rentang usianya jauh diatasny. Jika ia bersedia, blm tentu keluarga besar kedua belah pihak bs menerimanya. Apalagi budaya masyarakat saat ini yg ada stigma krg pas klo anak gadisnya menikah dg laki2 yg lbh muda.
Ngomong2 sy termasuk yg ini lho. Kebetulan allah menjodohkan sy dg berondong ganteng yg usianya lbh muda 2thn dr sy. Hehehe

Qt dapati pula sosok aisyah yg tdk hanya shalihah, tp jg cantik, cerdas, dan lincah. Semua laki2 pasti ingin mendapatkan sosok demikian, tp tidak semua laki2 siap menghadapi sikap cemburu beliau yg bs banting piring di dpn tamu..

Dlm pernikahan slalu ada ujian. Ujian ttg bgmn beradaptasi dg laki2 asing yg mjd suami qt berikut keluarga besar bliau dg karakter atau latar belakang yg tak sama, misalnya.
Contoh, sy bbrp kali menjumpai ada diantara kawan2 yg sering update status di fb ataupun status di bbm dan berkeluh kesah ttg sikap suaminya. Terkadang bahkan mslh yg sangat sederhana tp bs memicu ketidaknyamanan. Misal pencet pasta gigi dr tengah, padahal kebiasaan kita pencet dr bawah. Misal kalau hbs makan kotoran di piring tdk pernah dibuang lgsg ke tmpt sampah pdhl kebiasaan qt sebaliknya. Misal suami tdk pernah mengembalikan barang2 di tempat semula dan ditaruh berserakan, pdhl qt memiliki kebiasaan rapi. Dsb.

Knp di publish di medsos? Entahlah, bbrp mengaku biar suamix tersindir dan sadar. Bbrp mengaku suaminya gak bakal tahu krn memang gak punya fb, postingan itu sekedar untuk menyalurkan emosi dan bikin plong.
Tapi apakah memang demikian penyikapan yg tepat? Apakah tdk justru memicu permasalahn lain di kmdn hr?

Qt jg berbicara Tanggung jawab yg tak ringan terlebih saat telah dikaruniai keturunan, misalnya. Itulah kenapa dikatakan menikah itu memenuhi setengah agama. Krn tanggung jawabnya pun tak ringan.
Itulah knp paradigma yg benar dlm memandang pernikahan hrs benar2 qt siapkan sejak awal, biar ndak terkejut dan shock saat menghadapinya. Biar kita jg siap dg berbagai sikap yg bijak dan tepat saat menghadapinya. Bahwa menikah tak sekedar berbicara ttg cinta dan romantisme, tp ada ujian dan tanggung jawab besar yg menyertainya.

Pada pertemuan2 berikutnya akan dibahas detail ttg ini insyaallah (bersambung 1)

B. Syukur dan sabar
Persiapan ruhiyah/mental yg kedua adalah dg membangun paradigma kita bahwa pasti akan dipergilirkan antara nikmat dan ujian, dipergilirkan suka dan duka, dipergilirkan gelak tawa dan derai air mata. Itulah kenapa sabar dan syukurpun akan menjadi sebuah keniscayaan dlm biduk rumah tangga. Hanya saja  sisi2 kemanusiaan qt lbh sering mudah bersyukur saat kondisi lapang, tp sulit bersabar dlm kondisi yg sulit dan sangat tdk menyenangkan. Insyaallah dipertemuan2 berikutnya akan dibahas detail ttg mslh ini.
Misal ttg bgmn manajemen konflik dg pasangan datau keluarga. Dsb

C. mengubah ekspektasi menjadi obsesi
Persiapan ketiga dlm lingkup ruhiyah atau mental ini adalah berbicara ttg mengubah espektasi menjadi obsesi. Apa maksudnya?
Seringkali saat masih single kita berharap, berespektasi kelak mendapatkan sosok suami yg shalih, yg bs jd imam yg baik untuk kita. Tidak salah, memang. Tp akan “sakit dan mengecewakan” jika espektasi ini ternyata tdk kita dapati dlm dirinya kelak. Alangkah indah seandainya qt ubah espektasi ini mjd sebuah obsesi. Berpikir kira2 apa ya yg bs aku lakukan untuk suamiku kelak agar ia bs jd imam yg baik untukku, apa ya yg bs aku bantu nanti saat sdh menikah agar suamiku bs jd ayah juara untuk anak2ku, dsb..

D. menata ketundukan pada smua ketentuanNya
Persiapan keempat dlm dimensi Ruhiyah/mental selanjutnya adalah menata ketundukan pada semua ketentuaNya. Memastikan bahwa semua on the track dlm tiap prosesnya. Jika menikah adalah sesuatu yg baik, maka segala sesuatunya qt pastikan jg baik dlm versiNya.
Baik saat menyiapkannya.
Baik saat dlm proses menuju pernikahannnya (berkenalan, lamaran, dsb)
Baik pula saat mengarungi bahtera berikutnya..

Dulu sblm menikah sy pernah membaca salah satu buku karya penulis favorit sy, ust salim.a.fillah
Mungkin sering kita dengar ttg hadist bahwa wanita(dan sebaliknya bg laki2) dinikahi krn 4 hal bkn? Krn kecantikannya, krn hartanya, krn keturunannya dan krn agamanya.

Tp saat itu sy terhenyak dg redaksi lainnya yg kurang lebih begini (ndak hafal, buku pas lg dipinjam) :
“Kalau kita menikah krn kecantikannya, tunggulah sampai allah mempercepat buruk wajahnya”
Maksudnya klo ada laki2 tampan yg dtg meminang bkn brarti qt terima pinanganx nunggu dia gak ganteng lg lho ya.. Hehehe.. To klo qt menikah krn gantengnya, silau dg ketampanannya, maka bs jd dia akan mjd suami qt tp stlh itu allah akan mempercepat hilangnya ketampanan yg qt puji2 itu..

Begitu jg dg 2 hal yg lainnya.
Kalau kita menikah krn keturunannya, tunggu sj sampai allah membuka aib dan menurunkan kehormatannya.
Kalau kita menikah krn hartanya, tunggu saja sampai allah menghilangkannya..

Apakah brarti qt tdk boleh menikah dg laki2 yg ganteng, kaya dan dari keturunan terhormat? Tentu saja bkn demikian. Disini menegaskan bahwa kebaikan agama lah yg jd standar utama kita.

Agama : nilainya 1
Tampan : nilainya 0
Kaya : nilainya 0
Keturunan terhormat : nilainya 0

Kalo dpt suami tampan dan kaya. Brarti  nilainya 0
Kalo dpt suami yg baik agamanya nilai 1
Dpt suami baik agama, dan ganteng/kay nilainya 10
Dpt suami baik agam, ganteng, kaya, dr keturunan terhormat, wah itu yg asyikk.bonusx banyak. Hehehe..

Menata ketundukan padaNya dlm tiap proses, termasuk untuk urusan niat.
Ini pengalaman pribadi, mjd hikmah pribadi setidaknya bagi sy dan suami.
Niat kami berdua insyaallah seperti pasangan lainny. Menjalankan perintah agama, mengikuti sunnah, menghindari fitnah, membentuk keluarga dakwah yg nantinya bs bermanfaat bagi kebaikan lingkungan masyarakat dan bangsa yg lbh luas. Tidak ada yg salah menurut kami dg niatan ini. Tapi sy dan suami punya lintasan pikiran yg lain. Mhn digarisbawahi. Lintasan pikiran. Bkn niatan.
Saat itu suami punya lintasan pikiran bahwa kalu sdh nikah enak ntar punya PW alias Pendamping Wisuda saat seremonial kelulusan. Yap, kami menikah memang saat suami sy msh berstatus mahasiswa, smstr 9. Kondisi “mengharuskan” suami nambah 1 smstr krn amanah masa jabatan bliau sbg presiden BEM Unair saat itu blm tuntas. Hmm pendamping wisuda. Pasti asyik ya, ada yg bs digandeng saat wisuda. Tp kondisi real ternyata berkata lain. 14 maret kami menikah, april ternyata alhamdulillah sy positif hamil. Dan di bln april itu jg suami akan wisuda. Tp bbrp hr sblm yudisium sy mengalami pendarahan hebat yg mengharuskan sy bedrest 1 minggu lbh di tempat tidur dan melewatkan impiannya bergandengan saat wisuda. Tp alhamdulillah kandungan sy msh bs dipertahankan sampai lahir tsabita kamila hasana, putri pertama kami.

Niat sy menikah spt td disebutkan diatas. Tp sy jg punya lintasan pikiran, bukan niatan. Ah enak ntar klo sdh nikah ada yg nyari maisyah, ndak lg ngrepoti orang tua, ndak perlu bingung mslh maisyah..
Tp yg terjadi berbeda. Stlh menikah kami sepakat keluar dr rmh orang tua untuk segera bljr mandiri dan disana sy merasakan ada sesuatu yg berbeda dg lintasan pikiran td. Kami pernah ada dlm kondisi minim uang. Pernah hanya bisa beli telur 2 biji, beras 2kg. Pernah jg “terpaksa” beli soto ayam di langganan kami yg hanya dg uang 5rb bs dapat kuah soto plus potongan ayam yg tdk sedikit. Knp beli soto? Biar kalo kuah sotonya habis, sisa potongan ayamnya bisa dicuci dan diolah lagi untuk bikin sop dsb..

Saat itu kami mencoba introspeksi dan br menyadari bahwa apa yg terjadi pada bln2 di awal pernikahan kami saat itu MUNGKIN adalah teguran Allah untuk meluruskan paradigma kami. Bg suami sy PW mungkin tdk perlu dijadikan sebuah lintasan pikiran apalagi naudzubillah jk mjd pemicu kesombongan. Bagi sy, kesulitan ekonomi saat itu seolah menjadi tamparan keras dr Allah untuk mengingatkan bahwa rizki itu bkn dr suami. Tp mutlak dr Allah Sang Penjamin Rizki..
Berdua kami tersadar, menangis dan beristighfar bersama. Memohon ampun atas khilaf yg mungkin tdk pernah kami sadari slama ini dlm melalui proses menuju pernikahan. Alhamdulillah sejak saat itu khdpn rumah tangga termasuk kondisi ekonomi kami berangsur2 membaik.

Cerita lain. Ada seorang kawan yg bercerita tengah berproses dg seorang laki2. Dr crita bliau sy merasa intensitas dan cara berkomunikasinya krg ahsan dan perlu dibenahi.
Tidak berdua2an seorang laki2 dan perempuan yg bkn mahram melainkan ketiganya adalah syetan. Yup, tp apakah makna berdua2an itu hanya dlm dimensi fisik saja? Kalau smsan, bbm-an, inbox fb, mention2 an di twitter, apakah jg ndak termasuk dlm konteks berdua2an??
Menurut sy, itu trmsk berdua2an.
Kembali ke cerita. Sy merasa bliau dan calonnya perlu membenahi pola komunikasi mrk. Biarpun sdh khitbah ato dilamar skalipun, blm tentu dia akan jd suami qt. Lho koq? Iya lah. Sblm ada ijab qabul alias akad yg diucapkan blm bs dikatakan dia PASTI akan jd suami qt bkn? Pernah ada crita diujung pulau jawa, seorang perempuan yg akan menikah, smua persiapan sdh matang dilakukan, undangan tlah disebar, kwade-catering tlah dipesan, bahkan souvenir bertuliskan nama ke2 mempelai pun tlah siap dibagikan. Ternyata taqdir Allah berkata lain.
2 hari sblm hari h pernikahan, pihak calon mempelai pria tiba2 memutuskan sepihak batal menikah! Bagai disambar petir disiang bolong. Trus gmn klo bsk tamu2 dtg? Dalam kemelut kebimbangan calon mempelai wanita dan keluarga bsr, ternyata allah mendatangkan laki2 lain, saudara seperjuangan dlm komunitas kebaikan di daerah mrk tinggal ternyata menawarkan dirinya untuk menjadi suaminya. Bersedia sepenuh jiwa mjd imamnya dan ikhlas bersanding di pelaminan meski nama yg terukir diundangan dan souvenir bukanlah namanya..
Masyaallah..

Balik lg ke crita td. Balik balik terus. Maap. Hehehe…
Dr crita tmn sy yg akan menikah td sy merasa ada pola komunikasi yg perlu benahi. Tp wallahu a’lam bgmn akhirnya. Hingga akhirnya alhmdlh hr yg dinanti dtg juga. Beliau berdua menikah dan sah sbg pasangan suami istri.. Sy turut berbahagia.. Hingga krg lbh skitar 1 minggu kmdn sang istri datang dan Curhat kalo lg ada mslh sama suamix. Saat itu mrk buntu menyelesaikannya. Dan stlh sy dengar ceritanya sy berkesimpulan ini krn masalah komunikasi yg krg lancar antara istri dan sang suami.
Hm..

Dr bbrp kejadian itu, akhirnya kami br menyadari sebuah untaian kalimat yg tdk kami pahami dr buku ust salim dulu sblm menikah. Kurang lebih redaksinya begini,
“Bahwa satu kesalahan saja yg kita lakukan saat menuju pernikahan, akan kita rasakan akibatnya saat sdh berumah tangga dan akan berpengaruh pada kebarakahan rumah tangga yg qt bina”
Jika kita salah dalam pola komunikasi saat proses akan menikah, bs jd komunikasi pula yg jd sebab pertengkaran yg muncul dlm rmh tangga kita.

Itulah knp ust salim menganjurkan untuk sering2 introspeksi dan beristighfar meski kita sdh menikah, siapa tahu ada salah dan khilaf yg tdk qt sadari DULU, tp ia mjd batu2 yg mempengaruhi perjalanan rumah tangga kita

Insyaallah pd pertemuan2 berikutnya kita akan bahas detail ttg dimensi menata ketundukan kpd semua ketentuanNya ini.
(Bersambung 2)

Lanjutan (3) Resume materi To Be WOW
#pertemuan 1, ahad 25 Mei 2014
#pemateri euis kurniawati

________________________________
Sebelumnya kita sdh bahas sekilas ttg persiapan pernikahan yg pertama yaitu persiapan ruhiyah/mental (ada 4 point : ujian dan tanggung jawab. Sabar dan syukur. Mengubah espektasi menjadi obsesi. Menata ketundukan pada semua ketentuanNya)

Selanjutanya persiapan pernikahan yg kedua adalah:
2. Ilmiyah tsaqafiyah / ilmu pengetahuan. Ada banyak hal ternyata yg HARUS qt pelajari dan pahami sblm msk gerbang pernikahan, bahkan bagi mrk yg telah menikahpun pasti akan merasakan hal yang tidak jauh berbeda, butuh selalu belajar, butuh selalu menimba ilmu. Krn dinamika rumah tangga begitu luas, begitu kompleks, dinamis. Akan lbh membantu jika sebelum menemui masalah qt sdh punya wacana ttg itu dan tahu bgmn bertindak dg tepat. Akan berbeda kalau sekedar trial-error. Ibarat kita akan beli sebuah peralatan elektronik misalnya, pasti ada buku petunjuk ttg penggunaannya dan antisipasi apa yg hrs dilakukan agar tidak rusak. Begitu pula dengan pernikahan..
Mungkin saat qt berupaya menambah wawasaan kita, misal dg baca buku/buka link2 artikel, akan ada bersitan pikiran, “aduh.. Rasax koq hampa ya, males, kayakx blm terlalu urgen belajar ini.. ”
Hmm.. Paksakan saja terus baca, yakinkan diri saja, mungkin ndak terasa manfaatnya saat ini, tp suatu saat nanti info ini PASTI akan sangat berguna.

Bbrp ilmu yg perlu qt pelajari sblm menikah, antara lain:
A. Fiqh
Pernah ada cerita seorang kawan yg kebetulan hbs ngisi taklim ibu2 paruhbaya di sebuah kota, banyak dr mrk yg blm ngerti kalo ternyata ada kewajiban mandi junub stlh berhubungan suami istri. Kewajiban itu saja mrk blm paham, apalagi caranya. Padahal rata2 sdh menikah bkn dlm hitungan bln. Tapi sdh bertahun2 bahkan banyak yg usia pernikahannya diatas 10thn..
Lalu bgmn dg sholatnya slama ini? Wallahu a’lam..

Jika istri telah bersih dr haidh, apakah boleh berhubungan dg suami meski ia blm bersuci(mandi besar)? Ini jg msk bahasan fiqh.

Termasuk jg ttg apakah beda status najis pada pipis bayi laki2 dan bayi perempuan? Fiqh pula yg akan menjawabnya. Dan msh bnyk contoh yg lainnya.

Insyaallah pada pertemuan2 berikutnya akan diundang ustadz yg kompeten untuk membahas masalah ini.

B. Komunikasi Pasangan
Ilmu ttg komunikasi pasangan perlu kita pelajari sblm menikah. Krn pada dasarnya karakter, dan ciri khas masing2 jg tdk sama. Jika tidak diilmui bs berpotensi konflik dan memicu pertengkaran.
Misal bagi seorang wanita kalau ada masalah, ia akan senang bercerita dan didengarkan. Berbeda dg laki2 yg lbh memilih menyendiri dan berkontemplasi.
Memiliki “ruang” sendiri alias “masuk goanya” adlh cara yg khas bg seorang laki2 untuk menyelesaikan masalanya. Kalau kita sbg istri tdk memahami karakter ini, bs2 kita malah menuduhnya tidak perhatian dan lari dr mslh. Pdhl memang dmikian carax menyelesaikan mslh.

Contoh lg. Saat  seorang wanita bilang “tidak apa2”, sebenarnya ia sedang “apa2”. Berharap sang suami memahaminya, tp alih2 demikian, yg ada suami mengkapnya memang “tidak apa2″. Bkn gak peka, tp memang hampir semua laki2 demikian sbg ciri khasnya.

Ada buku bagus yg gda salahnya msk list daftar buku yg perlu qt beli.
Men are from mars, women are from venus karya Jhon Gray. Ndak terlalu mahal koq, sekitar 45rb. Kalau di surabaya bs cari di TB Togamas Pucang. *bkn iklan :p

Brikut bbrp cuplikannya:

Fragmen 1
Istri: Bajunya bagus yah?
Suami: ambil aja. Beli lah..
Istri: tapi mahal
Suami: demi istri
Istri: lagi banyak keperluan bulan ini
Suami: ya udah ga usah beli
Istri: … Hmm, ok, mau deh beli
Suami: ……….

Fragmen 2
Istri: aku bagus ga pake ini?
Suami: bagus
Istri: tapi kayaknya aku kelihatan gemuk kalo pake ini
Suami: ya udah pake yang lain *solutif*
Istri: tuh kaaaaan… AKU GEMUK!
Suami: -_-’

Fragmen 3
Suami: aku anter ya
Istri: ga usah, aku bisa sendiri
Suami: ok deh
Istri: jadi… Mas tega aku pulang sendiri!
Suami : @_@

Jadi wahai para istri, mulailah belajar menyampaikan uneg2 yg ada, mulailah berlatih menyampaikan ide dan perasaan yg sebenarnya, tak perlu pakai bahasa kiasan, tak usah pakai bahasa ambigu. Knp? Krn memang laki2 diciptakan tdk bs menangkap itu. Ia bkn paranormal yg bs mengerti bahasa hati kita. So, sampaikanlah. Komunikasikanlah.
Jangan sampai karena tuntutan alam bawah sadar kita untuk menjelma mjd sosok istri yg shalihah kmdn memangkas keberanian kita untuk menyampaikan pendapat dan uneg2 di dada. Hati2, jk tdk disalurkan dg tepat, ia bagai bola es yg terus menggelinding membesar dan berbahaya.

Kalau ndak bisa ngomong langsung bgmn? Biasa perempuan, bs jd blm ngomong udah nangis duluan. Gjd ngomong deh.. Hehehe.. Banyak jalan menuju Roma. Pointnya kan yg penting terkomunikasikan, carax bs beragam. salah satunya dg saling diskusi via bbm/wa. Dlm bentuk tulisan. Kalau gbs jg? Tunggu aja di paparan materi pertemuan2 berikutnya ^_^

D. Parenting
Hal lain yg perlu kita ilmui sblm menikah adalah seputar dunia parenting. Waktu kita sedikit, belum puas belajar ttg menjadi istri yg shalihah tiba2 saja kita harus mengemban amanah menjadi ibu. Maka mengilmuinya jauh sblm menikah mnjd sbuah kebutuhan, bahkan bs dibilang tuntutan.

Misal seputar kehamilan, apakah ngidam itu ilmiah dan memang ada secara medis? Atau justru ternyata itu hanya dikenal di Indonesia saja?
Apakah qt sdh cukup faham ttg all about ASI? Ttg asi eksklusif, ttg Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dsb. Terkadang banyak jg yg masih kebingungan saat pertama kali melahirkan dan asi blm lancar keluar sdh buru2 mau dikasih sufor. Eits tunggu dulu. Bayi baru lahir ternyata bs bertahan  48-72 jam tanpa minum lho, krn ia msh menyimpan cadangannya saat msh dlm kandungan.
Asi keluar tp dikit bangettt, kasihan tkt kurang. Emang mau dksh sbrapa bu? Lha wong lambung dedek bayi yg br lahir memang cuma sebesar kelereng. Bagi saya pribadi dan suami (libatkan pula ia untuk belajar) lbh sering ngakses akun twitternya
@ID_AyahASI @aimi_asi @tipsmenyusui untuk belajar.

Contoh lain ttg parenting misalkan, jika ada anak kecil lari2 kemudian ia terjatuh dan menangis, apa yg biasanya para orang tua kebanyakan katakan?
Bisa jadi antara 2 opsi ini

“Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” .  padahal dg jwbn spt ini anak akan belajar utk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya.

Atau jawaban kedua.
“waduh jatuh, sdh cup2 ya sayang, lantainya nakal ya? Sini bunda pukul ya lantainya”.
Dr sini anak akhirnya belajar mencari kambing hitam atas kegagalannya. Pdhl akan lbh pas kalau qt sbg orang tua meresponnya dg “wah jatuh ya, lain kali lbh hati2 ya sayang. Jalannya pelan2 aja”.

Hmm.. Banyak sekali PR yg dipelajari di point parenting ini. Insyaallah di pertemuan2 berikutnya akan qt bahas lbh detail dg para ahlinya..

D. Skill domestik rumah tangga
Bs masak mbak?|Bs dong, masak soto,gule, kare, iga sapi panggang dll. Tp dlm bentuk mie instan. Hehehe…
Yap, memasak seringkali lekat dg tgs seorang istri. Walaupun kalau dilihat bagaimana sisi Islam memandang urusan2 domestik spt memasak, mencuci, dsb itu sejatiny adalah kewajiban suami. Sama spt sebuah hadist yg mengatakan tamu adalah raja. Tp hadist ini ditujukan bagi tuan rumah agar bs melayani dan menjamu tamunya dg baik. Hadist ini tidak ditujukan bagi tamu yg kmdn dijadikan patokan agar ia menuntut diperlakukan bagai raja. Begitu jg dg urusan domestik ini. Meskipun itu kwjbn suami, tp bkn berarti istri lepas tangan. Oleh krn itu mengilmui skill ini mutlak diperlukan.

Bagaimana menyusun menu makanan dg gizi seimbang.
Bgmn mengolah makanan sisa, misalnya ketidaktahuan banyak ibu kalau ternyata sayur bayam ndak boleh dipanasi krn akan jadi racun.
Bagaimana menyajikan makanan yg lezat meski tanpa vitsin dan MSG.
Termasuk yg paling simpel mengenal rempah2 sederhana. Krn msh bnyk sy jumpai adek2 mahasiswi yg ternyata masih bingung untuk membedakan mana kencur, kunci, jahe dan laos. Masih bingung mengenali mana merica dan mana ketumbar. Masih tidak yakin mana daun salam dan mana daun jeruk purut…
Mg kedepan qt bs bahas ini di pertemuan2 berikutnya.
(Bersambung 3)

Lanjutan (4) Resume materi to be WOW
#pertemuan 1, 25 Mei 2014
#pemateri : euis kurniawati
_________________________________

Melanjutakan resume materi sebelumnya, bahwa menikah ternyata tak sekedar ttg cinta. Butuh banyak persiapan. Sdh kita bahas sekilas ttg 2 persiapan sebelumnya : spiritual/mental dan ilmu pengetahuan. Selanjutnya ada 3 persiapan lain yg perlu kita lakukan sblm menuju gerbang pernikahan.

3. Persiapan jasadiyah/fisik
Setidaknya dalam persiapan ini kita memasang 3 target berdasar prioritasnya.
A. primer
Target primer kita adalah memastikan diri kita sehat dan aman dr penyakit. Terutama kesehatan reproduksi. Terkadang keluhan2 ringan semasa gadis kalau tidak disikapi dg tepat bs menjadi sesuatu yg tdk nyaman saat berumah tangga. Misal ttg keputihan, pola menjaga kebersihan daerah kewanitaan, dll. Insyaallah pd pertemuan berikutnya akan ada pembahasan khusus ttg ini bersama praktisi kesehatan langsung.

Di point ini jg seolah menegaskan kpd kita untuk memastikan semua yg masuk ke dalam tubuh adalah sesuatu yg baik dan tdk berpotensi menimbulkan penyakit. Misal menghindari junk food, makan pentol dg saus yg merah menyala, dsb

B. sekunder
Target kedua kita adalah bugar dan tangkas. Gak gampamg lemes, ndak mudah sakit. Gesit, cekatan.
Bisa dibayangkan kalau seorang ibu gampang lemes dan sakit, pasti akan kerepotan menjalankan amanahnya secara maksimal. Oleh krn itu target sekunder ini perlu diperjuangkan. Salah satunya dengan olah raga.
Coba bertanya pada diri kita masing2. Kapan terakhir kita berolah raga?
Jangan2 jawabannya adalah saat sma. Saat pelajaran penjaskes di sekolah. Wow, Sdh brp lama itu???? Hehehe..
Untuk itu, insyaallah setiap hari sabtu, seluruh member komunitas to be WOW akan diwajibkan berolah raga dalam bentuk apapun yg disuka. Boleh badminton, bersepeda, senam, renang atau bahkan sekedar lari dan lompat di tempat. Agar olah raga bkn menjadi hal yg memberatkan, tp justru menyenangkan dan ringan kita lakukan

C. Tersier
Target ketiga dalam persiapan fisik sebelum menikah adalah beauty and charm. Mdh2an di pertemuan yg akan datang bs dibahas ttg masalah ini dr ahlinya. Mg bs ngundang salah satu salon muslimah untuk membagi ilmunya ttg bgmn menjaga kesehatan kulit dan rambut. Perawatan wajah minimal apa dan bgmn  yg bs kita  lakukan mandiri di rumah untuk menjaga kesehatan dan kecantikan wajah,dsb.

4. Persiapan Finansial
Setidaknya ada 3 hal penting yg perlu kita siapkan sblm menikah. Membangun wacana dg benar, meletakkan paradigma yg proposional ttg :
A. Bahwa di point ini kita tidak berbicara ttg brapa banyak materi yg dimiliki oleh calon pangeran kita. tapi bicara potensi dan kesungguhannya untuk bertanggung jawab sepenuhnya sbg kepala keluarga.
Banyak hikmah yg sering sy dpt seputar point ini dr para sahabat dan kerabat yg lbh dulu menikah. Namun ijinkan  sy berbagi kisah ttg pengalaman pribadi sy.

Dulu suami melamar sy saat beliau blm lulus kuliah. Saat itu beliau memang sdh berpenghasilan dg aktifitasnya sesekali mengisi training2 mahasiswa atau memeriahkan acara dg menjadi MC. Tp bs dibayangkan brp penghasilannya. Tentu tdk bs dikatakan besar.

Orang tua sempat bertanya kpd sy saat itu : “yakin mau nikah sama mas adri? Blm lulus kuliah, gak punya penghasilan tetap. Trus ntar kamu mau dikasih makan apa? Mending nikah aja sama si fulan anak tmn mama itu, pekerjaannya sbg dokter lbh menjanjikan”

Hm.. Sy buang jauh2 pikiran bahwa orang tua saya materialistis. Semua ortu pasti ingin yg terbaik untuk anaknya, ndak ada ortu yg menginginkan anakx hidup susah. So, wajar kalau pernyataan itu meluncur dr bibir beliau.

Alhamdulillah, dulu sblm menikah sy sdh suka baca2 buku dan artikel seputar pernikahan. Jadi punya argumen untuk menepis kekhawatiran bliau. Sy sampaikan saat itu dg lembut,
“Ma, pak adri memang saat ini ndak berpenghasilan tetap, tp insyaallah yg penting bliau ttp berpenghasilan. Walaupun kami gak pernah pacaran, tp sy lbh mantap kalo meneruskan proses dg bliau, drpd dg anak tmn mama yg dokter itu. Dia gak “ngaji” spt aq ma. Ngrokok lagi.. Bismillah ma, kalau memang pak adri yg dipilih Allah jd pendampingq, aq ndak terlalu khawatir kesulitan ekonomi kedepannya. Aq yakin nikah itu mengkayakan. Yakin, krn itu janji Allah. Gak mungkin kan Allah mau ingkar janji?
Bareng2 kami buka buku ust Salim yg mencuplik penggalan Quran surat An nur:32
-Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui-

Kami juga buka cuplikan ttg hadist yg jangan menikah krn harta, ada warning disana yg sdh sy singgung di resume sblmnya. Alhamdulillah stlh itu orang tua ACC sy melanjutkan proses dg bliau sampai akhirnya gerbang pernikahan itu nyata di dpn mata.

Meski sempat mengalami kondisi sulit ekonomi, tapi kami merasa banyak  campur tangan Allah disana.
Misal saat kami memutuskan pisah dr orang tua untuk belajar mandiri, kami sempat bingung. Mau pindah kemana? Mau ngontrak rasanya gak mungkin. Gda uangnya kalo langsung bayar penuh di dpn. Pilihannya cari kos2an suami istri. Tp alhmdlh waktu ngisi training di banyuwangi, ada peserta yg br kenal di sana menawarkan rumah anak bliau ditempati oleh suami dan sy. Krn sang pemilik sedang melanjutkan studi S3 di Australi bersama keluarga kecilnya. Kami tinggal bawa badan aja. Lingkungan nyaman, Rumah bagus, ac, mesin cuci, spring bed, cooking set, semua lengkap.. Gratis.
Masyaallah, rasanya gak percaya. Seneng banget..

Tp kami disana cuma skitar 7bln, krn pekerjaan suami cukup jauh kalo harus dijangkau dr tmpt tinggal pinjaman kami saat itu. Akhirnya kami pindah haluan, cari kos2an suami istri di bilangan raya prapen surabaya. Kamar ukuran 3×4 pkus kamar mandi dlm, menjadi catatan jejak perjalanan rumah tangga kami.
Biar mungil tp hangat.
Dan alhamdulillah, skitar 7bln juga kami menempati kos2an hingga akhirnya Allah beri rizki dr arah yg tak terkira dan bisa beli rumah sendiri (tanpa subsidi dr orang tua maupun saudara) di kawasan perumahan yg nyaman, 5menit dr kampus ITS. Impian yg dulu kami pikir bs diraih saat setidaknya sdh 10-15thn berumah tangga, tp alhamdulillah terwujud saat bln genap 2thn pernikahan. Mhn maaf, tiada maksud menyombongkan diri. Bkn krn hebatnya kami, tp mutlak krn Rahmat dan karunia dr Allah. Cerita ini disampaikan mg bs makin meyakinkan kita bahwa janji Allah itu benar. Jangan pernah takut miskin krn menikah, krn Allah pasti memampukan. Lbh bersyukur lg ketika hikmah ini pun akhirnya diamini pula oleh orang tua dan keluarga. Bahagia… Syukur kami tiada henti…

Mg rumah tangga kita semua Allah beri kelancaran rizki, kebarakahan harta. Berkah berlimpah, hingga sanggup menebar kemanfaatan yg lbh luas dg harta kita. Insyaallah..

B. Persiapan kedua terkait finansial ini adalah ttg kemampuan kita sbg istri untuk mengelola keuangan. Berapapun nafkah yg diperoleh suami, bs dikelola dg bijak. Perencanaan keuangan bs msk ke dlm point ini. Termasuk perencanaan menu masakan yg dihidangkan tiap harinya. Ndak selamanya harus sesuai budget, perlu sesekali kita belanja dibawah budget, agar selisihnya bs di saving untuk membuat menu yg lbh istimewa di hari lainnya. Termasuk pula tips ttg “amplop”, sudah memasukan sejumlah uang ke dlm bbrp amplop sesuai posnya, menghindari campur2 alokasi dan akhirnya bengkak alias over budget.
Insyaallah pertemuan2 berikutnya akan dibahas ttg mslh ini.

C. Persiapan ketiga dlm konteks finansial ini adalah ttg membangun paradigma yg tepat (bkn benar) stlh kita menikah dan dikaruniai anak. Apakah menjadi wanita karier atau “cukup” menjadi ibu rumah tangga. Krn tiap kita pasti tak sama. Sudut pandang, kebutuhan dan daya pikul kita berbeda. Maka jd mungkin, apa yg baik buat saya, blm tentu tepat buat yg lain. Insyaallah akan dibahas detail berikutnya. (Bersambung 4)

Lanjutan (5) Resume materi to be WOW
#pertemuan 1, 25 Mei 2014
#pemateri : euis kurniawati
________________________________

5. Persiapan sosial
Persiapan terakhir untuk menuju pernikahan adalan persiapan sosial. Setidaknya ada 2 hal. Pertama ttg bagaimana membangun komunikasi dg keluarga besar ttg konsep pernikahan idaman. Bagi kita yg memilih menikah dg cara yg tidak seperti kebanyakan orang pasti akan jadi tantangan. Misal memilih menikah dg calon yg dipilihkan guru ngaji dan tanpa pacaran. Misal memilih menikah tanpa menggunakan ritual dan perlengkapan adat istiadat . misal konsep menikah dg memisah tamu laki-perempuan dan meminimalisir standing party, dsb. Proses membangun wacana, melobi bahkan sampai melibatkan orang tua untuk hadir menyaksikan konsep pernikahan yg qt idamkan menjadi sebuah nilai plus kalau dilakukan jauh2 hari bahkan tdk mjd masalah meski blm ada calonnya. Hehehe…

Kedua ttg persiapan sosial ini adalah mengasah kemampuan bersosialisasi dan berkontribusi di masyarakat.
Berbeda ketika msh single dan menyandang status anaknya bpk/ibu x dg ketika sdh menyandang predikat istri pak fulan. Mulai buang kebiasaan acuh tak acuh dan merasa cukup dg sekedar melempar senyum, menganggukan kepala kemudian masuk rumah dan tutup pintu sepulang kuliah/kerja.
Mulailah sltrhm dan menjalin komunikasi  dg tetangga sekitar kita. Tak ada salahnya pula menawarkan bantuan untuk menemani anak2 kecil sekitar mengerjakan tugas sekolahny, meskipun 1 pekan sekali. Tak ada salahnya pula menyambung keakraban dg mrk meski hanya dg membagi 1 bungkus permen.

Mulai juga untuk mengambil peran dan kontribusi di lingkungan kita tinggal. Meskipun saat ini kita berstatus sedang rantau di tanah orang. Terlibat dlm kepanitiaan agustusan, aktif di karang taruna atau mengambil kontribusi sbg remaja masjid terdekat.

Trust me it’s work.. Akan sangat bermanfaat bagi kita saat kelak berumah tangga jika sdh terbiasa bersosialisasi dan berkontribusi di masyarakat sejak masih muda.

————–
Alhamdulillah tuntas juga ngetik resume materi pertemuan pertama to be Wonderful Wife. Sekali lagi, apa yg disampaikan hr itu adalah sebuah preview, pengantar untuk materi2 lain yg akan disampaikan pertemuan2  berikutnya oleh para pakarnya masing2. Mg kita tetap bersemangat bermetamorfosis bersama untuk menjadi istri skaligus ibu yg amazing untuk suami dan anak2 kita kelak.
Karena sejatinya hidup itu adalah belajar.
Belajar sama sama.
Sama sama belajar.

Mg yg blm Allah pertemukan dg tulang rusuknya, kelak Allah temukan dg laki2 terbaik, disaat terbaik dan dg cara yg terbaik. Mg kelak rumah tangga kita mjd rumah tangga yg sakinah, mawaddah warrahmah. Membangun cinta, sampai surgaNya..

 (end)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s