Mengumbar kemesraan dipublic.

 Screenshot_1

Gambar ini yang membuat saya tertarik untuk membaca dua buah status di akun IG Tausiyahku, berikut postingannya :

Umurnya sudah cukup. Seperempat abad lebih beberapa bulan. Sudah punya pekerjaan sebagai karyawan swasta di perusahaan ternama di Jakarta. Tampang juga tak bisa dianggap “remah-remah rengginang” atau bikin yang lihat menutup mata dan baca istighfar beberapa kali lalu baca do’a kafaratul majelis, meski kalah lah kalau dibandingkan dengan Hamas Syahid Izzuddin si Azka di film Tausiyah Cinta–intinya wajahnya lumayan good looking dan camera face. Bacaan al-Qur’an juga bagus karena pernah ikut lembaga tahfidh Qur’an di sela-sela kesibukannya. Bahasa Inggris juga nggak bisa dibilang sekelas “Come and invest in Indonesia…udah ya”
Lalu apa yang membuat seorang kawan itu belum juga menikah? “Bukannya belum ada niatan menikah. Namun belum ada yang cocok.” ucapnya pada suatu malam.
Apakah definisi tidak cocok itu? Ia tak banyak menjelaskan. Hanya mengatakan bahwa kalau beli sepatu berukuran 43 namun adanya ukuran 40 apakah kita akan membelinya meski bakal nggak muat? Apakah beli karena suka warnanya dan merknya? Tentu benar yang dikatakannya. Lalu sampai kapan? “Saya sudah beberapa kali menerima CV akhwat.” ujarnya mau membuka diri untuk berbagi kisah. Ia paham sekali bahwa menikah yang paling diutamakan adalah melihat “agamanya”. Namun ada faktor penunjang lain setelah itu, misal fisik yang asik dilihat, keturunan, pendidikan, dan lain sebangsanya. “Sebenarnya yang terakhir sudah cocok. Sudah mendekati kecocokan,” katanya lagi. Lalu mengapa ia tak melanjutkan proses ta’aruf lalu ke jenjang yang serius. “Sudah ta’aruf sekali. Namun ada beberapa hal yang membuat saya tak cocok.” katanya melanjutkan sepotong-potong seperti JIL yang suka potong-potong ayat separahnya sendiri.
Fisik kah? Namun ia tak menjawab fisik. “Ia tak punya akun media sosial.” Seremeh dan selemah itu alasannya?
.
“Saya ingin seperti ikhwan atau akhwat lain yang setelah menikah suka show off tentang rumah tangga mereka, tentang ngedate halal mereka ketika malam Minggu. Saling mensyen-mensyen ketika rindu. Posting bekal istri lalu mensyen ucapan terima kasih. Interaksinya kerasa kalau bisa mensyen.” Hanya bergidik aneh mendengar alasannya. Apa alasan dia seperti itu pula? Ikhwan yang aneh bin mejik. “Saya merasa, ini dakwah yang lumayan efektif sebab yang halal itu perlu ditunjukkan, lha wong yang pacaran yang jelas-jelas haram saja pada sibuk kampanye kemesraan. Lagi pula ini juga bisa mendorong para jomblo-jombli mulia terdorong juga untuk menikah segera. Wajarlah kalau ada pengantin baru unjuk kemesraan dan saling mensyen, sebab mereka udah lama ‘puasa’ dan ketika perlu berbuka puasa.” jelasnya.
Begitukah? Padahal ‘puasa’ sesungguhnya seseorang bisa terlihat ketika ‘buka puasa’. Dia rakus membabi buta atau tetap dalam posisi sabar seperti sabarnya ketika puasa. “Pokoknya saya tetap memlih yang sudah punya akun media sosial, bukan yang baru buat ketika saya ingatkan. Karena dengan punya akun media sosial juga, saya bisa melihat interaksi dia selama di media sosial. Karena tulisan-tulisan status menunjukkan kualitas seseorang”
Embuhlah, sak karepmu! .
.
[Paramuda/ BersamaDakwah]
.
.
PART 2

Pada kalimat ini-lah saya merasa tertarik untuk membahasnya menurut pandangan saya (opini).

“Saya ingin seperti ikhwan atau akhwat lain yang setelah menikah suka show off tentang rumah tangga mereka, tentang ngedate halal mereka ketika malam Minggu. Saling mensyen-mensyen ketika rindu. Posting bekal istri lalu mensyen ucapan terima kasih. Interaksinya kerasa kalau bisa mensyen.”

Spontan saya tertawa geli membacanya, tapi tidak naif juga hal itu sempat terlintas dalam diri saya ketika awal menikah dulu. Saya pernah membicarakannya dengan suami saya, beliau menanggapinya berbeda dengan apa yang saya harapkan. Beliau berkata ;

“Mohon maaf ya sayang, mas tidak ingin mengumbar kemesraan dipublic. Memang apa tujuannya? Ingin pamer? kalau memang seperti itu, mas sangat tidak setuju. Cukup kita aja yang mengkonsumsinya.”

“Ah, suamiku.. kita kan sudah halal, sekalian dakwah juga, masa kalah sama yang pacaran?”.

“Maaf istriku.. tidak bisa, mas tidak ijinkan itu. Mengumbar kemesraan itu ga ada manfaatnya, mas juga malu.”

Dengan berat hati, akupun menurutinya. Tapi setelah itu aku memikirkannya kembali, merenungkan, bahwa ada benarnya dia bersikap seperti itu. Dengan kita tidak mengumbar kemesraan itu di media sosial atau public, kita bisa menjaga perasaan bagi mereka yang masih “sendiri”. Lalu aku berpikir keras, untuk apa juga aku men-share-nya dipublic? apakah ingin mendapatkan pengakuan bahwa kami adalah pasangan yang paling bahagia? atau kami diakui keberadaannya di warga sosial media tersebut? untuk apa? sekali lagi untuk apa??.

Kebahagiaan itu sejatinya tetap ada mau tidak atau di-share ke public. Bedanya, ketika kita mengumbarnya di media sosial “cita rasa” dari kebahagiaan itu mulai terkikis, bak pasir ditepian pantai yang terbawa ombak ke tengah lautan hampa. Walau hal ini tidak dirasakan oleh kebanyakan orang.

Dalam hal ibadah misalnya, rasa kenikmatan yang hakiki adalah ketika kita bisa merahasiakan amal ibadah kita dari orang lain. Karena menikah adalah ibadah jangka panjang. Dimana, segala interaksi dengan pasangan halal kita itu bernilai ibadah dan dapat mengugurkan dosa.

Allahu a’lam.

Saya juga tertarik dengan kalimat ini dipostingan tersebut.

Padahal ‘puasa’ sesungguhnya seseorang bisa terlihat ketika ‘buka puasa’. Dia rakus membabi buta atau tetap dalam posisi sabar seperti sabarnya ketika puasa.

Analogi diatas cukup menampar. Apabila sebelum menikah ia bisa menjaga pandangan & sikapnya, tetapi mengapa setelah halal ia malah ingin menunjukkannya? -yang secara tidak langsung juga menampakkan kecantikan dirinya itu?.

Suatu ketika saya pernah mendapati pasangan ikhwan & akhwat yang suka update status kemesraan mereka berdua. Aseli, ngakak sendiri & rada “geli” atau bahkan geuleuh bacanya. Kadang saya berpikir, kenapa mereka melakukannya ditempat ramai seperti ini (katakanlah FB), sengaja atau apa?. Apabila ingin suami tahu bahwa kita sedang senang, berbunga-bunga, apakah tidak lebih baik private saja di chat atau message? akan bisa lebih leluasa bermain dan bersambut kata disana.

“Aku ingin semua orang tahu bahwa kita adalah pasangan yang rukun, serasi, menginspirasi, sakinah mawaddah wa-rahmah”.

Apakah kita benar-benar memerlukan pengakuan itu? Mengapa perlu? Memang siapa kita? Apa manfaatnya bagi diri & pasangan?. Jangan-jangan ada yang salah dengan diri kita. Apakah benar kita bahagia dengan pasangan kita ataukah bahagia atas pengakuan orang lain?. Silahkan dijawab sendiri.

Ada beban moril disana.

Coba deh pikirkan, apakah kita bisa bertanggungjawab dengan dampak yang terjadi atas status kemesraan tersebut?. Seorang pemuda/i yang sudah bersusah payah menjaga dirinya menjadi punya angan-angan yang tidak-tidak, atau bahkan mendorongnya untuk pebuatan keji. Mereka sudah cukup terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “kapan nikah?”, “udah umur segini loh, belum ada yang ajak menikah juga?”, tidakkah alangkah lebih baik kita mendoakan atau bahkan mencarikan solusinya? atau minimal berusaha menahan diri-lah untuk menjaga psikologisnya.

Akibatnya, banyak ikhwan-akhwat jaman sekarang yang terlalu muluk-muluk dalam “memasukkan kriteria” untuk memilih pasangan hidup. Padahal menikah tidak selamanya indah seperti itu. Mereka jadi lupa apa yang seharusnya menjadi tolak ukur dalam memilih pasangan hidup. Jadi terlena dengan perasaan & angan-angan. Tidak mempersiapkan diri lebih matang dengan ilmu agama yang matang. Hingga Allah berikan pemahaman yang kokoh pada dirinya bahwa Ke-shalih-an itu mengalahkan rupa, tahta & harta. Dan ke-sekufuan itu adalah dalam hal keimanan.

Ada sebuah referensi yang dapat dijadikan rujukan bagi kita orang mukmin mengenai “show off” kemesraan dipublic.

Pertanyaan:
Apa hukum berpegangan tangan dengan istri di tempat umum?

Jawaban:

Saling menggenggam tangan bersama istri di tempat umum, jika tujuannya untuk bermesraan maka tidak selayaknya dilakukan, karena telah menghilangkan rasa malu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Malu itu salah satu cabang iman.” (Muttafaq ‘alaihi), dalam riwayat Bukhari,Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan, dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasa malu itu semuanya baik.” Keadaan ini jika perbuatan semacam ini (bergandengan tangan) tidak termasuk kebiasaan masyarakat setempat. Namun jika sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat, maka dibolehkan. Meskipun berusaha menghindari hal ini termasuk citra orang yang terhormat. Para ulama menegaskan bahwa mencium istri di depan umum merupakan sebab penghilang kewibawaan. Al-Bajirami mengatakan, “Mencium wanita, meskipun itu mahramnya di malam kebahagiannya, dengan dilihat banyak orang atau wanita lain telah menggugurkan sifat keadilan (kehormatan status dalam agama), karena ini menunjukkan sikapnya yang rendah, meskipun al-Bulqini mendiamkannya”.
Sumber: Diterjemahkan dari Fatawa Syabakah Islamiyah, dibawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih, no. 65794
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Mari lebih wise lagi dalam update status di media sosial. Karena kita “mewajarkan” atau mengaggap hal itu “sepele”, yang kelak tanpa sadar kita bisa mengungkap aktifitas rumah tangga sendiri yang semestinya hanya untuk konsumsi pribadi.

Sekian cuap-cuap saya, semoga bisa diambil hikmahnya. Bila ada salah kata maka itu dari saya, bila ada kebenaran di dalamnya itu datang dari Allah Yang Maha Sempurna.

Astagfirullahaladziim..

Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh.

Kunciran, 10 Agustus 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s