Category Archives: Kisahku

Folder ini berisi tentang potongan kisah yang ada dalam kehidupan saya

Mengumbar kemesraan dipublic.

 Screenshot_1

Gambar ini yang membuat saya tertarik untuk membaca dua buah status di akun IG Tausiyahku, berikut postingannya :

Umurnya sudah cukup. Seperempat abad lebih beberapa bulan. Sudah punya pekerjaan sebagai karyawan swasta di perusahaan ternama di Jakarta. Tampang juga tak bisa dianggap “remah-remah rengginang” atau bikin yang lihat menutup mata dan baca istighfar beberapa kali lalu baca do’a kafaratul majelis, meski kalah lah kalau dibandingkan dengan Hamas Syahid Izzuddin si Azka di film Tausiyah Cinta–intinya wajahnya lumayan good looking dan camera face. Bacaan al-Qur’an juga bagus karena pernah ikut lembaga tahfidh Qur’an di sela-sela kesibukannya. Bahasa Inggris juga nggak bisa dibilang sekelas “Come and invest in Indonesia…udah ya”
Lalu apa yang membuat seorang kawan itu belum juga menikah? “Bukannya belum ada niatan menikah. Namun belum ada yang cocok.” ucapnya pada suatu malam.
Apakah definisi tidak cocok itu? Ia tak banyak menjelaskan. Hanya mengatakan bahwa kalau beli sepatu berukuran 43 namun adanya ukuran 40 apakah kita akan membelinya meski bakal nggak muat? Apakah beli karena suka warnanya dan merknya? Tentu benar yang dikatakannya. Lalu sampai kapan? “Saya sudah beberapa kali menerima CV akhwat.” ujarnya mau membuka diri untuk berbagi kisah. Ia paham sekali bahwa menikah yang paling diutamakan adalah melihat “agamanya”. Namun ada faktor penunjang lain setelah itu, misal fisik yang asik dilihat, keturunan, pendidikan, dan lain sebangsanya. “Sebenarnya yang terakhir sudah cocok. Sudah mendekati kecocokan,” katanya lagi. Lalu mengapa ia tak melanjutkan proses ta’aruf lalu ke jenjang yang serius. “Sudah ta’aruf sekali. Namun ada beberapa hal yang membuat saya tak cocok.” katanya melanjutkan sepotong-potong seperti JIL yang suka potong-potong ayat separahnya sendiri.
Fisik kah? Namun ia tak menjawab fisik. “Ia tak punya akun media sosial.” Seremeh dan selemah itu alasannya?
.
“Saya ingin seperti ikhwan atau akhwat lain yang setelah menikah suka show off tentang rumah tangga mereka, tentang ngedate halal mereka ketika malam Minggu. Saling mensyen-mensyen ketika rindu. Posting bekal istri lalu mensyen ucapan terima kasih. Interaksinya kerasa kalau bisa mensyen.” Hanya bergidik aneh mendengar alasannya. Apa alasan dia seperti itu pula? Ikhwan yang aneh bin mejik. “Saya merasa, ini dakwah yang lumayan efektif sebab yang halal itu perlu ditunjukkan, lha wong yang pacaran yang jelas-jelas haram saja pada sibuk kampanye kemesraan. Lagi pula ini juga bisa mendorong para jomblo-jombli mulia terdorong juga untuk menikah segera. Wajarlah kalau ada pengantin baru unjuk kemesraan dan saling mensyen, sebab mereka udah lama ‘puasa’ dan ketika perlu berbuka puasa.” jelasnya.
Begitukah? Padahal ‘puasa’ sesungguhnya seseorang bisa terlihat ketika ‘buka puasa’. Dia rakus membabi buta atau tetap dalam posisi sabar seperti sabarnya ketika puasa. “Pokoknya saya tetap memlih yang sudah punya akun media sosial, bukan yang baru buat ketika saya ingatkan. Karena dengan punya akun media sosial juga, saya bisa melihat interaksi dia selama di media sosial. Karena tulisan-tulisan status menunjukkan kualitas seseorang”
Embuhlah, sak karepmu! .
.
[Paramuda/ BersamaDakwah]
.
.
PART 2

Pada kalimat ini-lah saya merasa tertarik untuk membahasnya menurut pandangan saya (opini).

“Saya ingin seperti ikhwan atau akhwat lain yang setelah menikah suka show off tentang rumah tangga mereka, tentang ngedate halal mereka ketika malam Minggu. Saling mensyen-mensyen ketika rindu. Posting bekal istri lalu mensyen ucapan terima kasih. Interaksinya kerasa kalau bisa mensyen.”

Spontan saya tertawa geli membacanya, tapi tidak naif juga hal itu sempat terlintas dalam diri saya ketika awal menikah dulu. Saya pernah membicarakannya dengan suami saya, beliau menanggapinya berbeda dengan apa yang saya harapkan. Beliau berkata ;

“Mohon maaf ya sayang, mas tidak ingin mengumbar kemesraan dipublic. Memang apa tujuannya? Ingin pamer? kalau memang seperti itu, mas sangat tidak setuju. Cukup kita aja yang mengkonsumsinya.”

“Ah, suamiku.. kita kan sudah halal, sekalian dakwah juga, masa kalah sama yang pacaran?”.

“Maaf istriku.. tidak bisa, mas tidak ijinkan itu. Mengumbar kemesraan itu ga ada manfaatnya, mas juga malu.”

Dengan berat hati, akupun menurutinya. Tapi setelah itu aku memikirkannya kembali, merenungkan, bahwa ada benarnya dia bersikap seperti itu. Dengan kita tidak mengumbar kemesraan itu di media sosial atau public, kita bisa menjaga perasaan bagi mereka yang masih “sendiri”. Lalu aku berpikir keras, untuk apa juga aku men-share-nya dipublic? apakah ingin mendapatkan pengakuan bahwa kami adalah pasangan yang paling bahagia? atau kami diakui keberadaannya di warga sosial media tersebut? untuk apa? sekali lagi untuk apa??.

Kebahagiaan itu sejatinya tetap ada mau tidak atau di-share ke public. Bedanya, ketika kita mengumbarnya di media sosial “cita rasa” dari kebahagiaan itu mulai terkikis, bak pasir ditepian pantai yang terbawa ombak ke tengah lautan hampa. Walau hal ini tidak dirasakan oleh kebanyakan orang.

Dalam hal ibadah misalnya, rasa kenikmatan yang hakiki adalah ketika kita bisa merahasiakan amal ibadah kita dari orang lain. Karena menikah adalah ibadah jangka panjang. Dimana, segala interaksi dengan pasangan halal kita itu bernilai ibadah dan dapat mengugurkan dosa.

Allahu a’lam.

Saya juga tertarik dengan kalimat ini dipostingan tersebut.

Padahal ‘puasa’ sesungguhnya seseorang bisa terlihat ketika ‘buka puasa’. Dia rakus membabi buta atau tetap dalam posisi sabar seperti sabarnya ketika puasa.

Analogi diatas cukup menampar. Apabila sebelum menikah ia bisa menjaga pandangan & sikapnya, tetapi mengapa setelah halal ia malah ingin menunjukkannya? -yang secara tidak langsung juga menampakkan kecantikan dirinya itu?.

Suatu ketika saya pernah mendapati pasangan ikhwan & akhwat yang suka update status kemesraan mereka berdua. Aseli, ngakak sendiri & rada “geli” atau bahkan geuleuh bacanya. Kadang saya berpikir, kenapa mereka melakukannya ditempat ramai seperti ini (katakanlah FB), sengaja atau apa?. Apabila ingin suami tahu bahwa kita sedang senang, berbunga-bunga, apakah tidak lebih baik private saja di chat atau message? akan bisa lebih leluasa bermain dan bersambut kata disana.

“Aku ingin semua orang tahu bahwa kita adalah pasangan yang rukun, serasi, menginspirasi, sakinah mawaddah wa-rahmah”.

Apakah kita benar-benar memerlukan pengakuan itu? Mengapa perlu? Memang siapa kita? Apa manfaatnya bagi diri & pasangan?. Jangan-jangan ada yang salah dengan diri kita. Apakah benar kita bahagia dengan pasangan kita ataukah bahagia atas pengakuan orang lain?. Silahkan dijawab sendiri.

Ada beban moril disana.

Coba deh pikirkan, apakah kita bisa bertanggungjawab dengan dampak yang terjadi atas status kemesraan tersebut?. Seorang pemuda/i yang sudah bersusah payah menjaga dirinya menjadi punya angan-angan yang tidak-tidak, atau bahkan mendorongnya untuk pebuatan keji. Mereka sudah cukup terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “kapan nikah?”, “udah umur segini loh, belum ada yang ajak menikah juga?”, tidakkah alangkah lebih baik kita mendoakan atau bahkan mencarikan solusinya? atau minimal berusaha menahan diri-lah untuk menjaga psikologisnya.

Akibatnya, banyak ikhwan-akhwat jaman sekarang yang terlalu muluk-muluk dalam “memasukkan kriteria” untuk memilih pasangan hidup. Padahal menikah tidak selamanya indah seperti itu. Mereka jadi lupa apa yang seharusnya menjadi tolak ukur dalam memilih pasangan hidup. Jadi terlena dengan perasaan & angan-angan. Tidak mempersiapkan diri lebih matang dengan ilmu agama yang matang. Hingga Allah berikan pemahaman yang kokoh pada dirinya bahwa Ke-shalih-an itu mengalahkan rupa, tahta & harta. Dan ke-sekufuan itu adalah dalam hal keimanan.

Ada sebuah referensi yang dapat dijadikan rujukan bagi kita orang mukmin mengenai “show off” kemesraan dipublic.

Pertanyaan:
Apa hukum berpegangan tangan dengan istri di tempat umum?

Jawaban:

Saling menggenggam tangan bersama istri di tempat umum, jika tujuannya untuk bermesraan maka tidak selayaknya dilakukan, karena telah menghilangkan rasa malu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Malu itu salah satu cabang iman.” (Muttafaq ‘alaihi), dalam riwayat Bukhari,Rasa malu itu hanya mendatangkan kebaikan, dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasa malu itu semuanya baik.” Keadaan ini jika perbuatan semacam ini (bergandengan tangan) tidak termasuk kebiasaan masyarakat setempat. Namun jika sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat, maka dibolehkan. Meskipun berusaha menghindari hal ini termasuk citra orang yang terhormat. Para ulama menegaskan bahwa mencium istri di depan umum merupakan sebab penghilang kewibawaan. Al-Bajirami mengatakan, “Mencium wanita, meskipun itu mahramnya di malam kebahagiannya, dengan dilihat banyak orang atau wanita lain telah menggugurkan sifat keadilan (kehormatan status dalam agama), karena ini menunjukkan sikapnya yang rendah, meskipun al-Bulqini mendiamkannya”.
Sumber: Diterjemahkan dari Fatawa Syabakah Islamiyah, dibawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih, no. 65794
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

Mari lebih wise lagi dalam update status di media sosial. Karena kita “mewajarkan” atau mengaggap hal itu “sepele”, yang kelak tanpa sadar kita bisa mengungkap aktifitas rumah tangga sendiri yang semestinya hanya untuk konsumsi pribadi.

Sekian cuap-cuap saya, semoga bisa diambil hikmahnya. Bila ada salah kata maka itu dari saya, bila ada kebenaran di dalamnya itu datang dari Allah Yang Maha Sempurna.

Astagfirullahaladziim..

Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh.

Kunciran, 10 Agustus 2015.

Advertisements

Marhaban Yaa Ramadhan

Bagaikan terhipnotis untuk memilih playlist ini, tak ada keinginan namun tetap dipilih.

Rabbi.. Kau selalu punya cara untuk mengingati diri ini yang disibukkan dengan hal duniawi.

Tak terasa, Ramadhan akan datang sebentar lagi.

Air mata ini tak kunjung berhenti.

Sajak dalam lagu ini menjadi pengingat diri.

Yaa Allahu Rabbi..

Ampuni dosa diri yang tak pernah ingat mati.

Izinkan kami merasakan nikmatnnya Ramadhan lagi.

Ramadhan kali ini, akan terasa berbeda nanti.

Ya, karena kini aku telah dikaruniai pendamping hati.

Berkahi Kami duhai Rabbi..

Semoga Ramadhan nanti, menjadi Ramadhan yang lebih berarti..

Kamu (n) jodohku.

Kamu. (n) jodohku.

Ketika itu aku sudah tidak ingin memikirkan pernikahan.
Tetapi DIA memberikanku beberapa pilihan.

Siapa yang bisa menentukan segala urusan?
Hanya DIA, Rabb semesta alam.

Penawaran² itu datang bersamaan,
Membuat diri ini bimbang dalam keputusan.
Ya,
Kepada siapa lagi menaruh harapan?
Biar DIA yang memberi keputusan dan memberikan jalan.

Gemetar tangan ini ketika biodata itu disodorkan,
Debar jantung menjadi tidak karuan,
Membuat tangan ini terasa berat dan lemas seakan membawa banyak beban.

Aah..
Rasanya ku tak sanggup untuk membacanya.
Kakakku-pun meraihnya.

Hatiku-pun berdesir ;
Rabbi..
Kupercayakan seutuhnya kepada-Mu,
Bagaimana rupanya..
Bagaimana latarbelakangnya..
Bagaimana pekerjaannya..
KAU tidak pernah dzhalim kepada hambamu..

Alamak..
Kakakku-pun menyodorkan fotonya!

Ooh.. Rabbi..
Kuatkan imanku..
Beri aku petunjuk-Mu..

Ta’aruf,
Kali pertama kami bertemu..
Kaki bagai menghujam ke bumi, berat melangkah ke ruang tamu.

Singkat cerita,
Dalam segala kebimbangan dan keterbatasan, pertemuan dan pernikahanpun terjadi.
Tak perlu bermegah bak permadani, bagi kami esensi pernikahan itu sendiri.
Ya,
Karena Allah telah berjanji akan menyiapkan jalannya.
Tidak ada yang tidak mungkin bila Allah berkehendak.

Dua insan yang tidak pernah bertemu tatap sebelumnya,
Tidak pernah saling kenal apalagi tegur sapa,
Kini bersatu atas izin-Nya.

Rabbi..
Engkaulah penjamin atas ikatan ini
Berkahilah kami, Rahmati kami
Senang-susah kami, bahagia-nestapa kami
Ada dalam tanggungan-Mu duhai Rabbi..

Laa hawlaa wa laa quwwata illaa billaah..

16 Januari 2015
حير من الف شحري

View on Path

13 tahun 3 bulan 25 hari ~left

entah ditahun berapa, kecelakaan itu terjadi, saat terjun payung di daerah sumatera sana, kau sakit dan dipindahkan tugas di jakarta.

ada rasa syukur, namun juga tabah.

kau tak perlu lagi pergi jauh demi melakukan tugas negara yang mengancam nyawa. kau bisa selalu berada dekat kami.

tapi, kebersamaan itupun tak berlangsung cukup lama. pengobatan dokter itu berdampak ke yang lainnya, sehingga kau sampai dirawat hampir enam bulan.

hal yang tak pernah aku lupakan, ketika aku datang menjengukmu bersama adik laki-lakiku. kau tidak ingat akan namaku, hatiku sakit, seketika aku menangis dan lari keluar. hanya nama adik saja yang kau ingat. mama menghiburku dengan kata, “semuanya kok pi, cuma ridwan aja yang diingat”.

seiring membaiknya dirimu pa, harapan itupun membangkitkan kami dari kesedihan itu. akhirnya papa pulang ke rumah.

ya benar pulang, tapi pulang tanpa nafas..
aku dan adikku sedang duduk menanti kepulanganmu, bingung kenapa semuanya pada menangis?
ketika itu aku belum paham apa artinya orang meninggal..

saat kau dibaringkan di bale depan, aku menatapmu lama sekali, berharap kau bangun dari tidurmu. tapi nihil. akhirnya aku ikut mengaji disampingmu tanpa air mata.

tiba dipenghujung kami menatapmu untuk terakhir kali. semua tangisku baru tumpah dan ingin mendekapmu erat. tapi abang dan om memegang tanganku dan mengunci aku dalam kamar. takut aku melakukan yang tidak-tidak. karena kau telah dimandikan, dikafankan, dibedaki dan diberi wewangian.

setelah kepergianmu, dua-tiga hari aku masih belum merasakan kehilanganmu pa.. mungkin karena sanak saudara masih ramai berkumpul.
dan rindu itu-pun meledak.
tak ada yang dapat aku lakukan selain mendoakanmu..
berusaha menjadi bidadari kecilmu yang baik..
berusaha menjadi anak yang shaliha, nurut sama mama..

pa..
tulisan itu mengingatkanku akan kepergianmu sudah 13 tahun 3 bulan 25 hari berlalu..
pa..
ini hanya masalah waktu..
kami akan menyusulmu pa.

kekhawatiranmu mengenai kamipun tak perlu,
karena kami punya Allah yang selalu melindungi kami.. (Insya Allah).
oia pa, aku sudah menemukan lelaki itu..
secara raga ada yang melindungiku kini..
dia sama sepertimu..
penyayang dan lembut, juga pekerja keras dan penyayang anak kecil.
dia cepat akrab dengan anak-anak kak’ia, termasuk umar 😐 .
dan sekarang kak’ia sedang menanti anak ke-4 nya lahir.
kami bahagia pa..
semoga papa di alam barzah sana juga sedang bahagia. 🙂

tulisan ini ikut meramaikan dalam #HariAyahNasional yang jatuh pada 12 november.

Salam,
Penuh Cinta Untukmu #Ayah

#SayangiDirimu

bukan kesehatan yang mahal | tapi ber-obat-nya-lah yang mahal.
emangnya dokter ato obat itu Tuhan? | yang bisa menyembuhkan? | itu hanya sarana kawan.

Allah itu sudah modalkan kita sistem pertahanan tubuh yang paling oke, sistem imun.
maka, kenali tubuhmu lebih dalam | beri ia makan sesuai dengan apa yang dibutuhkan | ia akan berlaku baik terhadapmu.

Ingat tubuh itu juga titipan | bukan milik kita, tapi milik Allah.
deuh.. udah ah #SayangiDirimu kawan.

#SayangiDirimu dengan tidak berbuat dosa | sesungguhnya ketika kita telah berbuat dosa, kita telah mendzhalimi diri kita sendiri.
#SayangiDirimu dengan menjalani ketaatan | karena ketaatan terkadang memang mesti dipaksakan.
#SayangiDirimu dengan tidak ikut-ikutan | ilmu pengetahuan itu digunakan untuk mendukung apa yang Allah firmankan dan Rasul sampaikan.
#SayangiDirimu dengan menjaga apa yang telah Allah titipkan | karena kelak kau akan dimintai pertanggungjawaban
#SayangiDirimu dengan terus menyeru kebaikan | walau berbalas dusta, nista, cerca, bahkan fitnah.. Allah tidak pernah tidur kawan.
#SayangiDirimu dengan tidak memberi makan dengan harta haram | sesungguhnya itu tak mengenyangkan dan mebahagiakan, sebaliknya hanya menambah suram.
#SayangiDirimu dengan memberi makan yang halal lagi thoyyib | maka tubuh akan berlaku baik.
#SayangiDirimu dengan terus belajar dari semua sisi kehidupan | maka kebodohan dalam dirimu kan banyak terungkapkan.
#SayangiDirimu dengan mengenali dirimu lebih dekat, lebih baik | maka kau akan menemukan ke-Maha-Besar-an Tuhanmu.
#SayangiDirimu lebih dini dan segera sadari hal ini | maka kau kan mengetahui hidup ini tak abadi
#SayangiDirimu jaga imanmu, jaga tubuhmu, jaga pikiranmu, jaga ketaatanmu | sesungguhnya amalanmu lah yang menjagamu | bukan apa yang ada ditanganmu itu.

hidup itu kita tak miliki apa-apa | hanya dititipi apa-apa | kitanya aja yang suka ngaku-ngaku | udah gitu sok tau.

bila kata-kata itu benar, jangan lihat siapa yang menyampaikan.
kalo kamu liat siapanya, maka bukan kata-katanya yang salah, hanya saya yang belum sempurna mengamalkannya.

#happyFriday — at Kolong Langit.

Tabungan Kematian

461952_10200256295155521_59421489_o

Saya pernah mempostingnya di twitter, lalu saya kumpulkan sekaligus mencoba chirpstory, sila buka link berikut : http://chirpstory.com/li/181059

Ada 5 hal bukan yang telah Allah tetapkan dan itu hal yang pasti terjadi? coba sebutkan ;

  1.  Kelahiran
  2. Kematian
  3. Rezeki
  4. Jodoh
  5. Nasib

Kita sering kali menghawatirkan poin keempat, mengusahakan dengan seluruh peluh untuk poin ketiga, begitu pula meratapi poin kelima, tapi pernahkah kita mengkhawatirkan poin kedua? silahkan jawab dalam hati masing-masing dengan penuh kejujuran.

Chirpstory diatas membahas tentang bagaimana aku ingin dikenang dan sudah sampai mana aku mempersiapkan kematianku sendiri. Agak spooky siih terdengarnya, tetapi itulah kenyataannya.

Sudah sampai mana kita mempersiapkan kematian diri kita? yang ingin dibahas disini adalah perihal proses setelah kita wafat. Temen-temen tau dong, minimal pernah dong melihat orang yang meninggal itu diapain aja setelah dia meninggal terus sampai ke pemakaman jasadnya..?.

Naah, itu.. ternyata kita meninggal juga merepotkan orang lain yah, dari memandikan, mengafankan (bagi yang muslim), menyolatkan, hingga menguburkan. Prosesnya pun semakin cepat semakin baik. Lantas sudah ada yang coba membuat trobosan belum nih? trobosan buat bikin tabungan kematian.. Saya disini mengajak teman-teman pembaca untuk membuat tabungan kematian. Dengan menyiapkan uang untuk upah memandikan orang yang memandikan jasad kita, uang untuk kain kafan beserta kapas dan talinya, minyak wangi dan bedaknya, uang untuk papan nisan kita beserta tanah pemakaman kita (rumah transit, rumah di alam ketiga kita -alam barzah), bila ingin bunga dan air mawar atau pohonnya sekalian, hihi.

Selain amaliyah yang harus kita siapkan, materi pun harus kita siapkan agar tidak membebani sanak keluarga kita yang masih hidup. Terlebih usahakan tidak meninggalkan warisan hutang yaa, warisan harta saja untuk keberlangsungan keturunan kita dan wasiatkan untuk menggunakan hukum Islam, hukum Allah agar tidak terjadi sengketa, tak menahan kita masuk syurga-Nya (aamiiiin).

Jadi jangan nabung buat nikah aja, tapi juga coba sisihkan untuk tabungan kematian diri kita sendiri yaa.. oke oke? ;). Saya juga baru memulainya di tahun ini, semoga saja masih cukup waktu yah :’).

Sekian yang dapat saya sampaikan.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 16 Januari 2014

Jakarta

Serunya ber-ODOJ

Udah pada tau kan ODOJ itu apa? kalo belum tau gak gaul buangeet.. AHAHAHA
*caritau sendiri yaa, ^_^v

Saya mau cerita sedikit.
Alhamdulillah sudah 12 hari saya gabung di grup #ODOJ1854 -tak terasa waktu begitu cepat-.
Kami terdiri dari 30 orang, ada ibu-ibu, ada mba-mba, hihihi. Perkenalan kami yang singkat, membuat kami menjadi semakin melekat #tsaah -lha iya, cuma share data diri, lalu langsung start-.

Beruntung yang mempunyai nama dengan awalan “A”, karena jatahnya selalu terdepan, HAHA. Hari pertama (hitungan hari dalam hijriyah, maghrib adalah waktu bergantinya hari) diawali oleh admin grup kita, Bunda Ani, asal Palembang yang tinggal di Timika, Papua. Berlanjut ke hari berikutnya dengan list pertama menjadi PJ harian hari kedua, dan saya dapet jatah hari ketiga.
Gak kebayang awalnya, baru aja kenal, udah dikasi amanah jadi PJ harian, itulah.. kita kudu cepat beradaptasi dan memahami mekanismenya, khihihi. Seharian mantengin HP, mindahin kontak, udah gitu lucunya ya, ada yg pake inisial “Bidadari surga”, nama panggilan yang beda dengan nama aslinya, scroll ke atas liat history chat udah kejauhan amat, puyeng, hahaha. Itulah nikmatnya. Ampe diomelin mama doong; “Haapeeee muluu dari tadi, ngejogrog disitu”. AHAHAHA.
Alhamdulillah lancar pas tiba harinya gue jadi PJ Harian, ampe dipromote buat jadi PJ terus.. -gegara ada yang berhalangan untuk jadi PJ Harian-.

Naah, hari ini pagi tadi, Ibu titi yang jadi PJ-nya, Ibu titi gak tau gimana caranya copas List Tilawah di WA itu gimana. Mikir keras deh gue, ahahaha. Sama kaya kaka gue ternyata, dia alesan mulu, padahal masih jauh jatahnya karena namanya dari “Y, Yama”.

“Pi, entar jatah PJ gue, elu aja yak yang jadi PJ-nya, ribet gue sama anak-anak”,
“ogah, enak aje, belajar laa..”,
“engga ah, ribet, udaah eluu ajjaa ya ya yaak”,
“pffttt”.

Akhirnya, gue coba deh tuh ngejelasin dengan bahasa yang paling sederhana, karena mis-komunikasi ternyata pas gue bilang “icon copy”, “paste”, “scroll”. Tantangan banget, ngejelasin lewat chat untung masih sedikit tertolong sama screencapture -alhamdulillah-.

ibu titi : mba sudah saya copy, tapi ko ga muncul “paste”-nya yaa? dimana ya “paste”-nya? XD
gue : *mikir keras* di kolom chat (yang buat ngetik itu) di hold/teken lebih lama sampai muncul kata “paste” atau tempel.
ibu titi : oh tempel yah?
gue : iyaa bunda cantik.. 🙂
ibu titi : saya coba dulu yaa..

ibu titi : ngeditnya gimana yaa mba? XD
gue : *kirim gambar* | di kolom chat itu bisa geser keatas bunda, terus edit deh.. sebelum di kirim, boleh coba bunda kirim ke aku sebelum ke grup buat percobaan..
ibu titi : oke, saya coba lagi yaa..
gue : iyaa bunda..

selang beberapa waktu, akhirnya ibu titi berhasil kirim ke grup untuk update list tilawah hari ini, diakhirnya diselipkan ucapan terimakasih buat “mba alfi”.
Karena ibu titi share di grup, kaka gue dan ibu meily menanggapi deeh itu.. -ibu meily pernah tanya untuk download alqur’an di android, karena alqur’annya hilang waktu nemeni anaknya sekolah-.

ibu meily : belajar apa ya ti? 😀
kaka gue : apa tuu apa tuu kaka alfii.. XD XD
ibu titi : saya habis belajar copas list tilawah sama mba alfi.. alhamdulillah akhirnya berhasil.. 🙂
kaka gue : kemarin sii yama juga mau diajarin.. tapi yama nya gak mau nyimak.. malah kabooorr XD XD XD + emote lari

ngahahahahahaa…
udah gitu aja cerita singkatnya..

kesimpulannya, pernah denger entah dari siapa lupa,
kalo orang pinter itu dia mampu menjelaskan dengan bahasa yang sesederhana mungkin, bisa membuat orang yang bener-bener awam mengerti dan bisa. 🙂
so, jangan ngaku pinter dulu deh kalo ga bisa ngejelasin ke anak kecil -loh apalagi ini ga nyambung?- ahahaha..
sebenernya mirip-mirip gitu,
karena Rasul bilang, eh apa Allah ya? deuh banyak lupanya–banyak dosanya siih :’D
begini dah kurang lebih; “maka ajarkanlah dengan bahasa yang mereka mengerti..”.

Join di ODOJ, alhamdulillah banget, bisa lebih menjaga iman yang naik turun, gue sampe bikin istilah “teman-teman syurgaku”, lebay? biarin 😛
Karena memang ga ada teman yang lebih baik, selain teman yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, apalagi ini yang menyatukan kita adalah Al-Qur’an.
Sempet nyesel, nyesel banget malah.. nyesel kenapa ga dari bulan-bulan kemarin aja gabungnya??
Yeah karena masalah mis-komunikasi sih, gue waktu itu waitinglist ampe sebulan lamanya, kebayeng deh galaunya, labilnya, mana siklus hormon lagi ga bener, makin jadi aja deh. 😦
Akhirnya sekitar tanggal 5/6 Januari baru gabung ikut mengaji, diawal saya mulai dengan lelang Juz gue, karena udzur. Namun semangatnya terasa sekali dan bikin iri, karena gue belum bisa baca Al-Qur’an ketika itu..
Gue sangat bersyukur sekali gabung dikomunitas ini, buat gue lebih semangat lagi, semoga istiqomah.. aamiiiin.

Yuk Join bagi yang belum Join ODOJ, dan rasakan sendiri manfaatnya! 🙂

Rabu, 15 Januari 2014
Jakarta.

Rela pada Ketentuan Allah

ridha

Biarkanlah hari-hari berbuat semaunya
Berlapang dada-lah jika takdir menimpa

Jangan berkeluh-kesah atas musibah di malam hari
Tiada musibah yang kekal di muka bumi
Jadilah laki-laki tegar dalam menghadapi tragedi
Berlakulah pema’af selalu menepati janji

Jika banyak aibmu di mata manusia
Sedang engkau berharap menutupinya
Bersembunyilah engkau di balik derma
Dengan derma aibmu tertutup semua

Jangan pernah terlihat lemah di depan musuhmu
Sungguh malapetaka jika musuh menertawaimu

Jangan berharap dari orang kikir kemurahan
Di neraka tiada air bagi orang yang kehausan
Rizkimu tidak berkurang karena kerja wajar perlahan
Berlelah-lelah tidak menambah rizki seseorang

Tiada kesedihan yang kekal tidak pula kebahagiaan
Tiada kesulitan yang abadi tidak pula kemudahan

Jika engkau berhati puas dan mudah menerima
Sungguh, antara engkau dan raja dunia tiada beda

Barangsiapa kematian datang menjemputnya
Langit dan bumi tak kan mampu melindunginya

Bumi Allah begitu lapang luas membentang
Namun seakan sempit kala ajal menjelang

Biarkanlah hari-hari ingkar janji setiap saat
Kematian tak mungkin dicegah dengan obat

Oleh: Imam Asy-Syafi’i

perasaan kita

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu bahwa orang yang kita kira tidak peduli sama sekali kepada kita adalah orang yang paling sering menyebut nama kita di dalam doanya?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang menulis begitu dalam dan indahnya dan kita kira untuk orang lain, ternyata untuk kita?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang sering bersikap dingin kepada kita adalah orang yang paling dalam memendam perasaannya kepada kita?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu bahwa orang yang kita benci adalah orang yang paling sabar menghadapi kita?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang menyuruh kita pergi adalah orang yang paling takut kehilangan kita?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang kita kira meninggalkan kita adalah orang yang paling ingin kita bahagia?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu…?

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Bandung, 7 Januari 2013

(c) Kurniawan Gunadi

?

http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/72494613485/perasaan-kita