Tag Archives: pagi

Manisnya susu & gula tak dapat sembunyikan rasa aseli pahitnya kopi | seperti rindu menyatu dengan sendu | sesak tak menentu.
#kopi #pagi

_1000bulan

Advertisements

mood swings

Ayo brangkaatt!!
Candaan khas keluarga itu ku keluarkan untuk menarik perhatiannya yang masih bermalas ngulet di kasur. Tatapan mengantuk, dibalut ekspresi ngambek, mulai berpendar ketika melihatku sudah rapi bersiap berangkat kerja. Ada tatapan rasa sedih ditinggalkan disana. “Kemarin kamu sudah pergi seharian, dan aku hanya bisa bercanda bermain denganmu sepulang kamu pergi semalam”. Mungkin itu kata yang kubaca dari ekspresinya pagi tadi.

Ku panggil namanya khas, dia tetap tidak beranjak. Ku datangi dia, dia ikut menghampiri. “Cium boleeh..?” (sambil menunjuk pipi kiriku), dengan semangat dia mendaratkan kecupannya, satu lagi di pipi kananku tanpa aku memintanya lebih dulu. Lalu salim, menyium punggung tanganku. “Dadaaahh..” ucapku, dengan senyum khasnya diapun melambaikan tangan. “Sampai jumpa malam nanti sayang..” , batinku.

Pagi ini ku berangkat dengan suka cita, menikmati angin pagi, sinar mentari yang masih agak malu memancarkan sinarnya dibalik dedaunan Stasiun Depok Baru. Allah.. Indahnya dunia-Mu, indah sekali. Engkau selalu mencukupi segala kebutuhanku melebihi apa yang aku butuhkan. Alhamdulillah, semoga hamba bisa pandai mensyukuri segala nikmat dan ujian-Mu.

Seperti biasa, aku suka membaca home di FB, sampailah mata dan hatiku tertambat di dua status yang berhasil membuatku menangis pagi ini. Menangis rindu..
Rindu dengan orang yang hanya dapat ku peluk dengan do’a untuknya, alm papa.
Rindu dengan orang yang masih bisa ku gapai dengan silaturahim, ingin sekali semua kudatangi rumahnya, bercengkrama, mendengarkan nasihat bijaknya, mereka adalah “orang tua”, “kakak”, “teman” bagiku, bapak ibu guru dan bapak ibu dosen. Walau ada yang belum sempat ku datangi, sungguh aku tak akan pernah lupa. Aku berharap Allah memberikan umur yang panjang pada mereka guru-guruku, dan memberikan aku kesempatan untuk bersilaturrahim dengan mereka.

#CeritaPagi

Senin, 14 Oktober 2013

Kamis Manis

Selama saya naik angkot 07 ke terminal Depok, baru kali ini ngalamin macet yang sampe satu jam. Tampak wajah-wajah bete, cemas, peluh keringat mulai menampakkan diri diatas dempul make up para penumpang wanita pagi itu. Supir muda yang menyapa tiap supir 07 lainnya dari lawan arah sembari tertawa menutupi ke-bete-an nya dikemacetan sepanjang jalan, dan menyarankan untuk memutar-balik supir dibelakangnya, “Parrah!, Udaah kaga kuat dah lu, macetnya kayak begini, puter balik aja, oper sini sewa nya”, dan supir itu-pun akhirnya nyerah juga.

Ada yang membuat saya Ge-eR, seorang mba-mba masuk dan duduk di sebrang saya, sejak dia masuk dan duduk, sering sekali tertangkap basah menatap saya lekat-lekat, mungkin saya mirip artis atau mirip kenalannya yang berkesan kali yah, atau memang saya yang cantik? muahahaha, narsis banget sih, hahaha. Cukup jangan dilanjutkan sesi narsisnya (^_^)v

Saya mulai menyetel playlist di hp, dan mengeluarkan buku dari dalam tas untuk mengatasi kejenuhan di tengah kemacetan itu. Sesampai di terminal dan di stasiun pun saya langsung saja bergegas (tidak ada yang menarik untuk diceritakan).

Keluar dari stasiun Karet, saya tidak sengaja melihat seorang laki-laki muda, fresh, rapi, memakai jaket hitam Eiger senada dengan tasnya dan celana coklat muda senada dengan sepatunya, juga menggunakan jam tangan di tangan kirinya. Dia akan menyebrang ke arah pejompongan dan saya melanjutkan langkah saya ke arah london school. Ketika menyebrang tiba-tiba dia di belakang saya dan mengambil posisi di kanan saya (seperti menyebrangkan), loh saya pikir dia akan menyebrang ke pejompongan. Saat menyebrang lagi, saya lebih lambat sedikit dan mengambil posisi di kanan dia (arus kendaraan dari arah kirinya).

Setelah menyebrang, dia menyamakan ritme langkahnya agar kami dapat jalan sejajar. Dia pun mulai membuka pembicaraan;
“Mba dari sini ga ada angkot yang kesana (tangannya menunjukkan arah yang ingin dia tuju) ya?”,
“Ada kok mas, biasanya ada mikrolet atau bemo dari puteran balik di kolong situ tadi (saya pun mengarahkan dengan tangan sambil menoleh ke belakang)”,
“Ooo, begitu.. saya mau ke Menara Batavia”,
“Emm,, ada kok lewat biasanya, mungkin ini lagi belum lewat aja, atau nanti bisa naik dari turunan fly over itu (saya menunjuk ke depan), naik mikrolet dari situ”,
“Oo, iya.. Mba mau kemana?”
Dengan rasa canggung, bingung mau jawab apa, karena kantor pun depan jalan, saya pun menjawab, “Emm.. mau ke depan fly over situ mas”,
“O,, gedung apa?”,
“Telkom mas”,
“Kerja disitu?”,
“Iya”,
Seketika hening, sebenarnya bisa saja saya tanya balik, tapi niat itu saya urungkan, tiba-tiba saya teringat komen jani di #cerita #pagi kemarin, haha, apa iya..? #ngaco
“Mba yang tadi naik kereta?”,
“Iya”, waah dia kok tau saya naik kereta? batinku,
“Saya baru kali ini naik kereta”,
“Ooo..”, saya juga baru mas, dalam hati 😛 ,
“Mba naik dari stasiun mana?”,
“Saya dari Depok Baru mas”, 🙂
“Oo.., eh saya mau naik mikrolet, udah ada tuh”, sambil menoleh dan bersiap.
“Oh iya silahkan :)”, karena posisi dia di kiri saya, selama mengobrol tentu saja mudah baginya untuk melihat yang tak dapat saya lihat di belakang saya.
Bahasa tubuhnya mengatakan, “Mari mba” berpamitan dan melemparkan senyum pada saya. Sayapun membalas senyumannya. 🙂
Melanjutkan langkah kaki yang sebentar lagi tiba di pintu gerbang gedung Telkom Karet Tengsin, ku lambatkan lagkahku, aku ingin memastikan bahwa dia telah naik bukan sengaja untuk menghentikan pembicaraan. Setelah ku lihat dia di belakang bemo itu dengan kepulan asap bercampur debu, ku langkahkan kaki dengan cepat dan membawa ke-riang-an masuk ke gedung tua itu, menyapa pak satpam dengan ceria, “Pagi pak :)”. “Pagi, hati-hati jatoh”, balasnya, karena ku sedikit berlari memasuki lobby.

Yaa Rabbi, apakah ini ijabah dari komen jani kemarin di #cerita #pagi ku?. Seorang lelaki berkulit putih bersih, berjenggot dengan sedikit kumis, berpakaian rapi dengan jaket hitam eiger dan celana coklat muda, yang tak ku ketahui siapa namanya.

Aku percaya tidak ada skenario yang lebih indah selain skenario hidup dari -Mu Yaa Rabb. Sungguh Aku tidak mengetahui, Engkaulah Yang Maha Mengetahui. Aku tidak mau mendahului takdir-Mu..

Datangkanlah “dia” (calon imamku) dengan cara yang Engkau suka Rabb, dengan proses yang kau suka dan ridhoi, sungguh pilihan-Mu melebihi apa yang aku butuhkan.. aamiin 🙂

#Cerita #Pagi #Kamis #Manis ❤

26 September 2013

Jakarta, Karet Tengsin

Semangat dari Nenek berkerudung kuning kunyit

menjelang istirahat siang mari dengar cerita pagiku hari ini, hhee..

Di stasiun Depok Baru, seperti biasa saya menunggu kereta jurusan Tanah Abang di peron. Datanglah seorang nenek tua (umur 80 th) duduk disamping saya, beliau bertanya “kereta yang ke tanah abang belum lewat ya dek?”, “belum nek”. Nenek ini membawa dua tas jinjing dan satu kantong kresek berisi kerupuk.

“Nenek mau kemana?”, lanjut saya. “Mau ke kali deres, nanti transit di Duri” balasnya. “Mau pulang apa ingin main nek?”, “mau pulang, abis dari rumah anak di Depok”. Kok anaknya atau cucunya ga nganterin aja yah nenek ini pulang ke rumahnya? sudah tua malah dibiarkan pulang sendiri jauh pula, batinku.

“Nanti ada nek yang ke tanah abang jam 7:16, yang 6:57 tadi sudah lewat, nanti bareng saya aja, saya juga searah”, “ooh iya..”. Di sebelah kiri nenek itu ada juga mba-mba lebih tua sedikit dariku usianya ikut menyimak percakapan kami. Ketika kereta tiba, sudah ku duga pasti penuh, dan akhirnya saya, nenek, dan mba kerudung ungu itu tidak jadi naik, kami berpikir untuk naik kereta selanjutnya 7:29. Pagi tadi semua keberangkatan terlambat, dan kamipun duduk kembali.

Tibalah kereta yang kami tunggu, walau penuh, sepertinya memungkinkan kami untuk naik. Tanpa ada koordinasi kami langsung membagi tugas agar nenek dapat masuk kereta tersebut, karena kereta yang selanjutnya ada jam 09:00, mba kerudung ungu mencari jalan terlebih dulu untuk menyarikan bangku untuk nenek (tidak ada yang kosong pastinya, tetapi pasti ada yang mau mengalah untuk memberikan tempat duduknya untuk nenek-nenek setua itu), dan saya membawa tas jinjing nenek. Alhamdulillah dapat juga akhirnya. Nenek itu sempat berkata padaku, “yaah, adek berdiri”, “gpp nek, udah biasa “.

Di dalam kereta saya lupa sudah sampai stasiun mana, saya dapat duduk disamping nenek, saya pangku tas jinjing beliau, kami pun ngobrol lagi, kini samping kanannya ada ibu-ibu yang ingin pergi ke tanah abang bersama teman-temannya. Pertanyaan mau kemana terulang lagi dan jawabannyapun sama.
“Dari Duri nanti nyambung lagi yang ke Tangerang, turun di Kalideres, dari Kalideres nyambung satu kali angkot lagi”, kata nenek.
“Ooh, emang anaknya kemana nek?”, tanya ibu disamping kanan nenek. “Anak, mantu, cucu pada kerja semua”,
“nah, ga sekalian aja berangkat kerja bareng nek?”,
“dari muda udah biasa sendiri ko”,
“kalo ketempat anak sebulan apa seminggu nginep nek?”,
“dua malem aja, kemarin abis dari pengajian di at-thahiriyah, skalian mampir ke depok”,
“oo, orang jaman dulu kuat-kuat ya nek, coba tanya sama mba yang disamping, anak-anak jaman sekarang apa-apa udah ngeluh capek, sakit”,
*aku ikut tersenyum aja, okelah gpp, maklum ibu-ibu, bukan tempatnya untuk membela diri, ga semuanya begitu kok nek, batinku.
“Dido’ain sehat terus yaa nek”, timpalku.
“Aamiin..”, kata nenek.
“Adek kerja apa kuliah? turun dimana nanti?”, tanya nenek.
“Aku kerja nek, nanti turun di Karet”.
“Umur berapa sekarang?”
“23 nek”, sambil nyengir polos.
“Cucu nenek umur 21 udah punya anak satu”.
“Allah belum kasih jodohnya nek, do’ain aja, hhe”.
Dan Keretapun tiba di stasiun Karet, aku beranjak bangun dan menaruh tas jinjing nenek disampingnya, nenek itu memberikan tangannya dan mengucapkan terimakasih padaku. Ku sambut tangan itu, ku cium dengan santun. “Hati-hati ya nek”, pamitku. “Iya, selamat bekerja ya dek”, sambarnya. Ku tatap wajah nenek itu tersenyum, adem, hangat, seperti seorang ibu yang melepas anaknya berangkat kerja dan memberikan semangat, ku balas senyumannya yang tulus itu, “Siap nek “.
Pagi ini, aku mendapatkan semangat dan senyuman khas dari seorang nenek berkerudung kuning kunyit  .

Yaa Allah, jadikanlah akhir hayatnya bahagia disisi-Mu, karuniakanlah kesehatan dan keimanan untuk terus mensyukuri setiap bait kehidupannya, jadikanlah kerukunan antar anak-cucunya ketika sepeninggalnya.

Yaa Allah, beri aku daya untuk dapat berbakti kepada orang tuaku hingga akhir usia, semoga aku bukan termasuk anak yang menyia-nyiakan orang tuanya dipenghujung usianya Yaa Rabb..

#Cerita #Pagi — at Kereta Commuter Line Bogor Jakarta.

Jakarta, 25 September 2013

Karet Tengsin

Senyum pagi-ku

Smile

hari ini,
tepat kali ke tiga aku bertemu denganmu
setiap pagi
aku sangat berharap untuk bisa bertemu denganmu
sebelum aku naik bus untuk berangkat kerja

tikungan itu,
ya di tikungan itu mataku tertuju
menanti kehadiranmu..

caramu berjalan,
penampilanmu yang selalu rapi dan manis,
senyumanmu,
setiap detail ekspresi di wajahmu,
ku tatap lekat lekat,
ku rekam dalam memoriku..

pagi ini ku mulai dengan senyum merekah dan rasa bahagia yang membuncah
hanya dengan melihatmu melintasiku
tapi, itu saja sudah cukup bagiku
untuk menjalani hari dengan sekantung semangat ceria
yang mungkin dapat ku tebarkan juga dengan orang disekitarku

pernah terbesit dalam benakku
untuk mengabadikan rupamu
diam diam,
dari tempatku berdiri..
tapi,
aku malu untuk melakukannya

aku mulai mencaritahu tentangmu
kepada orang yang pernah menyapamu
dia bilang,
kamu asal korea
pantas saja, terlihat pada garis wajahmu

pernah seketika kamu berhenti di depanku,
otakku menyuruh untuk segera mengambil telepon genggam di dalam tas
namun aku ragu
apakah aku harus mengambil gambarmu tepat di depanku atau menyapamu?
lagi-lagi,
nyaliku terlalu kecil untuk melakukan itu semua,
aku hanya bisa berdiri mematung,
salting,
memerhatikan setiap gerak dan ekspresimu,
hingga kau pergi dari pandanganku..

oohh.. amboi..
betapa senangnya aku ketika itu,
bagai menari-nari di taman bunga sembari ditaburi bunga seperti di film-film India
ingin lisan ini berteriak,
haii.. dunia! aku bahagia..

kamu..
si gadis kecil korea,
yang aku tidak tahu namanya,
🙂

Senin, 20 Mei 2013

Jakarta

Pagi ini, ketika menunggu bis kuning (bus trayek Kp. Melayu – Tn. Abang) seperti biasa saya menunggu di pangkalan ojek depan Gd. Bank Danamon Mega Kuningan. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuh motor yang berhenti tidak jauh dari tempat saya berdiri, mereka suami istri saya rasa.

Sang suami mengantar istri kerja setiap harinya, bagian yang paling saya suka dari pasangan ini adalah, setelah turun dari motor istrinya melepas helmnya, sang suami menerima helmnya dan memberikan tas istri yang digantungkan di dasbor motor, istri memberikan tas suami yang dipakainya, tak lama sang suami ini mengeluarkan uang, saya lihat uang itu ada lembaran Rp 50.000, Rp 20.000, dan Rp 10.000. Suami itu memberikan uang lembaran Rp 50.000 dan Rp 20.000 sisanya dimasukkan kembali ke dalam kantong, tak lama sang istri pun mencium tangan suami dengan patuh dan bersiap untuk menyebrang, suami menunggunya hingga menyebrang dan pergi dengan motornya.

Dari kejadian itu, pesan yang dapat saya ambil adalah ;

  1. Bersyukur, apapun yang kita dapatkan hari ini, itulah rejeki kita yang harus kita syukuri. Seperti yang dikatakan oleh mas Ippho, Nafkah dan rezeki itu relatif. Bisa meluas, bisa menyempit. Kalau berkah, maka akan meluas. Segala sesuatu jadi cukup”
  2. Wujud kasih sayang suami terhadap istri, pengorbanan suami mengantar istri bekerja dan rela memberikan uang yang lebih ke pada istri sedangkan dia hanya mengantongi sedikit (walau saya tidak tahu, apakah itu uang Rp 10.000 satu-satunya ataukah ada lagi uang di sakunya, hehe)
  3. Rasa hormat dan patuhnya istri terhadap suami, dengan mencium tangan suami dan senyum sebelum pergi itulah point of view yang saya selalu suka melihatnya, hihihii.. apalagi kalau suami juga mengecup kening sang istri atau sedikit mengusap kepala sang istri, sedikit yang melakukannya. Banyak pasangan suami istri yang saya lihat ketika dijemput ataupun diantar oleh suaminya malah cuek, seperti diantar oleh tukang ojek atau temannya saja. mungkin ada benarnya omongan ustad jamaah oh jamaah, mau tau engga caranya ngebedain orang yang naik motor itu pasangan suami istri atau orang yang pacaran? caranya, lihat cara perempuan itu pegangan, kalau setengah lingkaran berarti itu suami istri, jika dipeluk erat maka itu orang yang berpacaran, mengapa? karena masa bermesraannya sudah berkurang ketika telah menjadi suami istri,, saya spontan tertawa, tapi setelah itu saya berfikir, semoga saya bisa sebaliknya, aamiin 😀

Selain itu, ketika di jalan sebelum sampai di tempat biasa saya menunggu bis, cuaca pagi hari yang cerah disambut terpaan angin yang menyentuh wajah, membuat daun-daun rapuh jatuh dari rantingnya, seketika saya lewat sembari menikmatinya dengan memejamkan mata sejanak, saya pun berimajinasi, seperti jalan disebuah taman yang indah dan daunnya pun berubah menjadi bunga sakura yang gugur menyentuh wajah saya.. Indahnya pagi ini, seketika mood saya yang buruk ketika macet di depan rumah oleh motor-motor pendatang yang kerja di sekitar Mega Kuningan, dan orang yang merokok jalan di depan saya, asapnya mengganggu saya yang jalan tepat di belakangnya, “pagi-pagi udah ngasih racun!” –ngedumel dalam hati.

21 Maret 2013, Kamis

R. Monitoring CDC Karet Tengsin, Jakarta