Tag Archives: sakit

Menjaga Aqidah Ketika Sakit

 

Posted on December 30, 2010 by aphie3

 

Setiap orang yang beriman pasti akan diberikan ujian oleh Allah subhanahu wata’ala. Ujian tersebut beragam bentuknya, sesuai kondisi dan kadar keimanan seseorang. Ujian bisa berupa kesenangan dan bisa pula berupa kesusahan. Dan salah satu dari bentuk ujian tersebut adalah tertimpanya seseorang dengan suatu penyakit yang menggerogoti dirinya.

Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat Al-‘Ankabut ayat 1sampai 3, bahwa hikmah diberikannya ujian kepada kaum mukminin adalah untuk mengetahui[1] siapa yang jujur dan siapa yang dusta dalam pengakuan iman mereka tersebut.

Demikian juga ketika sakit, seseorang akan teruji tingkat kejujuran iman dan aqidah dia. Sangat disayangkan, ternyata di sana masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran syari’at yang dilakukan oleh orang yang sedang tertimpa penyakit. Di antara mereka ada yang tidak menerima bahkan menolak takdir Allah yang sedang dia rasakan tersebut. Bahkan ada yang mengatakan dan mengklaim bahwa Allah tidak adil kepada dirinya, Allah telah berbuat zhalim kepadanya, dan sebagainya, na’udzubillah min dzalik.

Ada pula yang tidak sabar dan putus asa dengan keadaannya tersebut sehingga dia sangat berharap ajal segera menjemputnya. Dan bahkan ada pula yang nekad melakukan upaya bunuh diri dengan harapan penderitaannya segera berakhir. Ini semua menunjukkan lemahnya iman dan kurang jujurnya dia dalam ikrar keimanannya tersebut.

Lalu bagaimana bimbingan syari’at yang mulia dan sempurna ini dalam menyikapi permasalahan-permasalahan seperti itu? Solusi apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap hamba yang mengaku beriman kepada Allah ‘azza wajalla, Rasul-Nya dan hari akhir jika tertimpa suatu penyakit agar iman dan aqidah ini senantiasa terjaga? Maka kali ini insya Allah akan kami tengahkan kepada anda, bagaimana syari’at membimbing anda tentang sikap yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang sedang mengalami sakit agar dia dikatakan sebagai seorang yang jujur dalam keimanan dan aqidahnya. Di antara sikap tersebut adalah[2]:

1. Hendaknya dia merasa ridha dengan takdir dan ketentuan Allah subhanahu wata’ala tersebut..

bersabar dengannya dan berbaik sangka kepada Allah subhanahu wata’ala dengan apa yang sedang dia rasakan. Karena segala yang dia terima adalah merupakan sesuatu terbaik yang Allah subhanahu wata’ala berikan padanya. Ini merupakan sikap seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan keimanan yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah berupa kebaikan. Dan tidaklah didapatkan keadaan yang seperti ini kecuali pada diri seorang mukmin saja. Ketika dia mendapatkan kebahagiaan, dia segera bersyukur. Maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan ketika dia mendapatkan kesusahan dia bersabar. Maka itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari shahabat Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu)

Beliau juga bersabda:

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim dari shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)

2. Hendaknya dia memiliki sikap raja’ (berharap atas rahmat Allah subhanahu wata’ala) dan rasa khauf (takut dan cemas dari adzab Allah subhanahu wata’ala)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَقَالَ كَيْفَ تَجِدُكَ قَالَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi seorang pemuda yang sedang sakit. kemudian beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Demi Allah ya Rasulullah, sungguh saya sangat mengharapkan rahmat Allah dan saya takut akan siksa Allah dikarenakan dosa-dosa saya.” Maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua sifat tersebut ada pada seorang hamba yang dalam keadaan seperti ini, kecuali Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan akan memberi rasa aman dengan apa yang dia takutkan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

3. Tidak diperbolehkan baginya untuk mengharapkan kematian segera menjemputnya ketika penyakitnya ternyata semakin menjadi parah dan memburuk.

أأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى الْعَبَّاسِ وَهُوَ يَشْتَكِي فَتَمَنَّى الْمَوْتَ فَقَالَ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّ رَسُولِ اللَّهِ لَا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتَ مُحْسِنًا تَزْدَادُ إِحْسَانًا إِلَى إِحْسَانِكَ خَيْرٌ لَكَ وَإِنْ كُنْتَ مُسِيئًا فَإِنْ تُؤَخَّرْ تَسْتَعْتِبْ خَيْرٌ لَكَ فَلَا تَتَمَنَّ الْمَوْتَ قَالَ يُونُسُ وَإِنْ كُنْتَ مُسِيئًا فَإِنْ تُؤَخَّرْ تَسْتَعْتِبْ مِنْ إِسَاءَتِكَ خَيْرٌ لَكَ

“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi pamannya ‘Abbas yang sedang sakit. Dia mengeluh dan berharap kematian segera datang menjemputnya. Maka beliau bersabda kepadanya: “Wahai pamanku, janganlah engkau berharap kematian itu datang. Jika engkau adalah orang baik, maka engkau bisa menambah kebaikanmu, dan itu baik untukmu. Namun jika engkau adalah orang yang banyak melakukan kesalahan, maka engkau dapat mengingkari dan membenahi kesalahanmu itu, dan itu baik bagimu. maka janganlah berharap akan kematian.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim dari shahabiyyah Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha)

Namun ketika ternyata dia tidak bisa bersabar dan harus melakukannya, maka hendaknya dia mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Ya Allah hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

4. Hendaknya dia berwasiat ketika merasa ajalnya telah dekat untuk dipersiapkan dan dilakukan pengurusan jenazahnya nanti sesuai dengan bimbingan syari’at dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah. Hal ini sebagai bentuk pengamalan firman Allah subhanahu wata’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)

Dan di sana banyak kisah- kisah para sahabat yang mereka berwasiat dengan hal ini ketika merasa ajal segera menjemputnya. Salah satunya adalah kisah shahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang pernah berwasiat ketika dia merasa ajal telah dekat. Dia berkata:

إِذَا مِتُّ فَلَا تُؤْذِنُوا بِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْيًا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ النَّعْيِ

“Jika aku mati, janganlah kalian mengumumkannya. aku takut kalau perbuatan tersebut termasuk na’i (mengumumkan kematian yang dilarang sebagaimana dilakukan orang-orang jahiliyyah), karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah melarang perbuatan na’i tersebut.” (HR. At-Tirmidzi)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Adzkar: “Sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk berwasiat kepada keluarganya agar meninggalkan kebiasaan atau adat yang ada dari berbagai bentuk kebid’ahan dalam penyelenggaraan jenazah. Dan hendaknya dia menekankan permasalahan itu.”

Wallahu A’lam.

http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1603

sakit ???

Posted on August 4, 2010 by aphie3

 

sebener’a karena dipaksa meriksa, klo gak yea seperti biasa . . gw cuekin :p

Lupa mulai kapan, mungkin sekitar tgl 10 ato 11 juli 2010.. disitu gw ngerasa kepala gw sakit yg kek’a mu kaya’ SMK kls 3 dlu . .

Review

Waktu ujian akhir kelas III SMK gw pernah sakit kepala (bukan migrain ato sakit kepala biasa), klo digambarin kaya’ dijatohin buah durian berkilo2, leher kaku gak bias nengok, ruku’ apa lagi sujud… beuh parah beud dah.

Waktu itu gak diperiksain ke dokter, males berurusan dengan RS. Akhirnya di diemin aja, ilang sih tapi lama dua bulan lebih . . (ckckck tahan jg yea gw hihihihi…)

Naah, rasa itu muncul lagi tapi dengan kadar yg tergolong ringan (coz gw masi bias b’aktifitas, walaupun sakit tp gw g’ rasa2 [biasaa..]). Seperti biasa soulmate gw di bandung yg khawatir maksa ngecek.

Walhasil, dibawa ke RS. Muhammadiyah pas diperiksa, ditanya2 akhirnya disuru tes darah dan hasil’a . . .

Hb                           : 13,4                    (wanita : 12 – 16 gr/dl)

Hematokrit         : 40                       (wanita : 36 – 47 %)

Leukosit               : 13.400              (4.000 – 10.000 Sel/mm3)

Trombosit           : 360.000          (150.000 – 400.000 Sel/mm3)

Wah kaget gw liat’a, tp positif thinking ja dulu.. trus dikasi obat baquinor ma analsik dan disuru datang dua hari lagi..

Pas dating lagi, dokter’a beda.. akhirnya disuru cek darah lagi dan hasil’a . . .

Hb                          : 12,7                    (wanita : 12 – 16 gr/dl)

Hematokrit         : 38                       (wanita : 36 – 47 %)

Leukosit               : 9.900                (4.000 – 10.000 Sel/mm3)

Trombosit           : 312.000          (150.000 – 400.000 Sel/mm3)

Alhamdulillah turun, tapi masih tinggi  . . tau gak kata dokter’a ap?

Ada virus di otak gw,.. wew gw percaya aja

Dikasi obat opinacea dan zaldiar . . abis ntu besok’a gw balik ke Jakarta . .

Di Jakarta,  gw teratur minum obat itu mpe abis, dah gitu udah gak diapa-apain lagi..

Asli masih sempoyongan dan demam (gak tinggi2 amat), akhirnya gw minumin Habbats..

Kamis sore gw balik ke Bandung (22/07) nyampe jam 23.00 dirumah .

Jum’at 19.00 berangkat lagi ke DPW, jam 02.00 baru jalan ke Serang – Banten ada kegiatan disana (Sabtu – Ahad). Nyampe di bandung lagi Ahad malem 23.45 . . wuuih mantap.

Senin ba’da maghrib gw cek darah lagi di Biotest Bubat, terkejut gw liat hasil’a o.O

Hb                            : 14,0                    (wanita : 12,2 – 16,2 gr/dl)

Eritrosit                : 4,6                       (wanita : 4,04 – 5,48 jt/mm3)

Hematokrit         : 42                         (wanita : 37,7 – 47,9 %)

MCV                      : 90,3                     (80 – 97 fl)

MCH                      : 30,1                     (dewasa : 27 – 31 pg)

MCHC                   : 33,3                     (dewasa : 32 – 35 %)

Leukosit              : 10.900               (dewasa : 4.600 – 10.200 Sel/mm3)

Basofil                  : 0                           (0 – 2 %)

Eosinofil              : 1                           (0 – 7 %)

Batang                  : 0                           (0 – 2 %)

Segmen               : 65                         (37 – 80 %)

Limfosit              : 27                         (10 – 50 %)

Monosit               : 7                           (0 – 12 %)

Laju Endap Darah : 5                      (wanita : 0 – 20 mm/1jam)

Trombosit           : 459.000           (dewasa : 142.000 – 424.000 Sel/mm3)

Akhir’a ke RS. Muhammadiyah lagi, trus dirujuk wat di rongen paru, dokter’a diagnose klo gw kena bronchitis . . kamis sore balik lagi.

Nah, pas udah keluar hasil rongen … normal bro!. langsung dah tuh balik lagi ke RS, pas diliat normal dokter’a Cuma bilang alergi. Gubrak, gak percaya gw.. akhirnya bis dari RS gw cek darah lagi di Biotest, hasilnya c turun dari yg senin malem.

Hb                          : 14,2                    (wanita : 12,2 – 16,2 gr/dl)

Eritrosit              : 4,8                        (wanita : 4,04 – 5,48 jt/mm3)

Hematokrit        : 42                         (wanita : 37,7 – 47,9 %)

MCV                     : 87,7                     (80 – 97 fl)

MCH                     : 29,6                     (dewasa : 27 – 31 pg)

MCHC                  : 33,7                     (dewasa : 32 – 35 %)

Leukosit             : 8.200                   (dewasa : 4.600 – 10.200 Sel/mm3)

Basofil                 : 1                           (0 – 2 %)

Eosinofil             : 1                           (0 – 7 %)

Batang                : 0                           (0 – 2 %)

Segmen             : 58                         (37 – 80 %)

Limfosit            : 28                         (10 – 50 %)

Monosit            : 12                         (0 – 12 %)

Laju Endap Darah : 6                       (wanita : 0 – 20 mm/1jam)

Trombosit       : 434.000              (dewasa : 142.000 – 424.000 Sel/mm3)

Trus gw pindah ke klinik Jaya Abadi disebelah’a, langsung ke spesialis penyakit dalam. Gw kasi liat semua berkas2 yg udah2, trus gw certain keluhan gw . .

Dah gitu gw dikasi obat wat naikin tekanan darah (coz tekanan darah gw rendah) Akrinor ma Enercore. Dah gitu 5 hari lagi dateng sambil bawa hasil darah dan EKG. Coz khawatir ada “gula” (ditanyain ada keluarga yg punya peny. Gula g? ada dari keluarga mama’, tp klo mama’ ad darah tinggi)

Hasil’a ;

Glukosa sewaktu                : 89 mg/dl

Kolesterol total                  : 165 mg/dl

Trigliserida                          : 74 mg/dl

Kolesterol LDL direk       : 99 mg/dl

Tekanan Darah                  : 120/80 mmHg

Diagnose EKG                    : RESTING

Pas konsul ke dokter’a hasil’a kata’a normal, trus ditanya2 lagi… ujung2’a mungkin coz kurang olahraga  (iye juga c). dikasi obat wat naikin tekanan darah lagi, coz pas diperiksa ma dokter’a rendah lagi 100/70, Akrinor ma merislon tapi gw gak tebus, heheheee … ngapain juga kata’a ga’ ad apa2

Sempet ditanyain beberapa pertanyaan c yg gw juga bingung jawab’a,..

Insya Allah ini jawaban’a

Mungkin waktu itu gw stress, banyak pikiran, aliran darah ke otak gak lancar… atau mang gw kena Hipotensi? coz emang c.. klo ditensi tekanan darah gw rendah terus . .

yah, insya Allah tidah ada penyakit yg mengkhawatirkan =) … HAPPY ENDING